<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d38414094\x26blogName\x3dBerpikir+Terbalik\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dLIGHT\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://mugi-subagyo.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://mugi-subagyo.blogspot.com/\x26vt\x3d2595216633679040534', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

17 December 2010


MANISNYA PEMBALASAN

Dalam kehidupan: Sakit hati, kebencian dan dendam dapat dijadikan kekuatan pembangkit yang dahsyat.

Pembalasan adalah respon terhadap sesuatu yang dianggap sebagai ketidak-adilan dan biasanya reaksi ini sangat parah akibat ego yang terluka. Bagi seorang eksekutif yang “takhtanya”-nya direbut, maka tidak ada upaya yang lebih memuaskan selain merebutnya kembali. Steve Jobs, yang didepak dari Apple Computer Inc, pada 1985 tapi kemudian berhasil kembali memimpin sejak 1997, bukan satu-satunya contoh orang yang berhasil memenangi pertarungan yang hampir mustahil. Banyak sudah dicontohkan mulai dari film (kung fu, action, fiksi, perang, drama, komedi dll) sampai dalam kehidupan nyata di dunia bisnis.

Memang aksi balas dendam akan terkenal selama berlangsung di posisi puncak, namun ruang kerja karyawan biasa, juga tak bisa luput dari sabotase. Pengunduran diri atau pemecatan bukan satu-satunya kondisi yang memicu orang untuk membuat perhitungan. Dari balas dendam terhadap rekan sekerja yang mencari-cari atau membesar-besarkan kesalahan, menyudutkan, menampik ide, pengecaman di depan umum, pemotongan anggaran tanpa kejelasan sampai dendam di antara para manajer level menengah yang bersaing memperebutkan jabatan, pembalasan juga memiliki peranan dalam skenario kehidupan yang lebih biasa.

Berita paling menghebohkan tentang balas dendam yang dilakukan oleh karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, menimpa sebuah perusahaan manufaktur di US (www.foxnews.com : Thursday, January 24, 2008). Marie Lupe Cooley mengira bahwa pekerjannya di Jacksonville, Fla. Berada dalam bahaya saat melihat iklan lowongan kerja dipasang di sebuah koran setempat yang tampaknya akan mencari kandidat untuk mengisi posisinya. Dia mengira akan mengalami pemutusan hubungan kerja, sehingga memutuskan datang ke kantor hari Minggu dan menghapus semua data-data penting dari sistem komputer perusahaan (Data 7 thn senilai $2.5 juta). Tindakannya melakukan sabotase merupakan contoh berharga bagi karyawan yang bertindak gegabah tanpa berpikir panjang. Keputusan impulsif ini akhirnya mengantarkan Cooley ke balik jeruji besi.

Keinginan untuk balas dendam merupakan salah satu dorongan manusiawi yang tersembunyi di balik prilaku eksekutif. Meski tabu dibicarakan dalam forum bahwa balas dendam dapat dijadikan pemicu sukses yang signifikan, tapi hal ini benar-benar terjadi.

Lantas bagaimana kita dapat melakukan pembalasan namun tidak terjebak dalam fallacy (buah pikiran yang keliru), dimana sebuah penalaran atau pemikiran menghasilkan kesimpulan yang nampak benar, namun secara aktual justru salah? Dan bagaimana agar dapat menduduki sebuah jabatan yang diincar dalam ranah persaingan yang penuh intrik dan mengundang ketidak-adilan? Sehingga saat terpilih, kita adalah pemimpin hasil sebuah bentukan, bukan pemimpin yang lahir karena kecelakaan sejarah.

JADILAH TERANG
Jangan pernah melawan kejahatan dengan kejahatan, ketidak-adilan dengan ketidak-adilan. Tidak perlu membuang energi untuk melawan kegelapan, cukup buat diri ini bersinar semakin terang, maka kegelapan akan hilang dengan sendirinya. Fokuslah bahwa permasalahan ada dalam diri kita bukan orang lain, karena yang ada pada diri sendirilah yang dapat kita perbaiki, pertahankan dan tingkatkan. Namun akan menjadi mustahil diperbaiki jika permasalahan yang kita yakini ada pada pihak lain.

Jadilah pribadi yang transfaran sebagai pilar integritas dan kejujuran melalui teladan kehidupan. Dengan transfaransi, kita akan menjadi orang atau pemimpin yang terbuka, menjadi teladan bagi karyawan lain. Tidak perduli Anda pintar atau tidak, kaya atau tidak, menjadi orang yang memiliki integritas, kejujuran dan keteguhan adalah kewajiban sekaligus hak tiap orang sejak manusia diciptakan. Meskipun pada awalnya agak memaksakan diri, integritas perlu dirangsang, dipaksa, dilatih bahkan dipertontonkan hingga akan menjadi refleks kecerdasan di kelak kemudian. Jika Anda memiliki kualitas seperti itu, percayalah! Bahkan kemiskinan pun tak dapat menundukkan Anda.

FASTER, HARDER DAN SMARTER TIDAKLAH CUKUP
Pola pikir atau mindset ini akan membuat kita mendapat dorongan bahwa semakin cepat, keras dan cerdas kita bekerja, maka semakin besar pula reward yang kita terima. Dengan begitu tantangan yang tersedia akan semakin besar dan membuat orang terpacu mengejar target yang menjadi tanggung-jawabnya. Sehingga tercipta karyawan yang target oriented dan menjelma menjadi orang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya tanpa memikirkan kebersamaan yang diperlukan suatu tim dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

Meskipun dibarengi dengan kenaikan gaji atau reward lainnnya, namun dengan segera gaji yang diterima akan dirasa tidak seimbang. Kita merasa telah terlalu banyak bekerja, berjuang demi perusahaan, bekerja lebih dibanding orang lain, sementara yang didapat sangat kecil. Kondisi lain yang memperparah adalah mengetahui bahwa yang lain juga mendapat kenaikan gaji, lalu beranggapan PGPW (Pinter Goblok Podo Wae/ Pinter Goblok Sama Saja), lantas semangat kerja merosot, timbul iri merasa diperlakukan tidak adil.

Perlu disadari bahwa Faster, Harder dan Smarter adalah pola pikir reaktif yang berupa solusi sementara. Pemahamannya sebagai berikut: Faster, Meningkatkan kecepatan atas pekerjaan Anda untuk mengejar, bertahan dan berjalan. Harder, Meningkatkan intensitas usaha Anda dalam rangka mengendalikan, memperbaiki dan mendominasi. Smarter, Meningkatkan know-how Anda untuk mengecoh, mengakali atau menyiasati suatu kemenangan. Hal ini dapat menjadi batu sandungan di kemudian hari.

Untuk itu perlu ditambahkan pola pikir yang kreatif dengan: Richer, Meningkatkan level kesadaran Anda untuk mengeluarkan potensi tersembunyi dalam situasi Anda. Deeper, Memperluas dalamnya penghargaan Anda terhadap hubungan manusia untuk mempercepat kemajuan dan sinergi. Wiser, Memperluas pengertian Anda tentang bagaimana dan mengapa dunia dapat menciptakan kemungkinan baru.

“You see things and say ‘Why?’ but I dream things that never were and I say ‘Why not?’.” (George Bernard Shaw)

KELOLA TEKANAN HIDUP
Kemarahan akibat dari tekanan hidup atas perlakuan yang tidak adil, sangat memungkinkan menimbulkan reaksi balas dendam. Namun sadarilah! Kemarahan sesungguhnya bukan bersumber pada besarnya hinaan atau perlakuan yang tidak adil, tapi lebih merupakan kerapuhan pada diri sendiri. Bahkan saat mental ini sedang sangat rapuhnya, maka hal sepele sekalipun dapat kita curigai sebagai sebuah penghinaan. Tapi bila mental pertahanan kita kuat, maka kita dapat melihat dengan cara yang berbeda. Karena kita tidak akan pernah bisa marah, sakit hati sedih bahkan senang sekalipun bila kita tidak mengijinkannya.

Jadi saat Anda memangku tekanan hidup, diamlah sejenak, lihat sekitar anda atau pikiran Anda, temukan obatnya. Lihatlah hal yang berbeda, karena biasanya obat untuk itu berada tidak jauh dari kita, misal: senyum anak-anak kita, kesabaran istri kita, atau tersenyumlah.. tanpa sebab. Anda akan rasakan gumpalan hitam tekanan hidup tadi menguap berganti indahnya cahaya pelangi. Bila Anda merasakan hal yang tidak enak atau tidak baik, Hentikan! Jangan Anda ijinkan. Hal ini merupakan indikasi bahwa Anda sedang memikirkan hal yang tidak baik. Ubah perasaan tadi dengan seketika, maka pikiran Anda akan berubah, kesedihan menjadi kegembiraan, Kesulitan menjadi kemudahan dan tekanan menjadi tantangan.

MEMBALAS DENDAM
Untuk menikmati keindahan balas dendam, tidak perlu melakukan pembalasan aktif, kemudian merasakan kepuasan melihat hukuman yang dialami pihak yang pernah mempersulit kita dengan menari di atas penderitaan orang lain (shadenfreude). Cukup dengan melakukan hal di atas, maka mereka akan menderita secara psikologis demi melihat Anda tidak jatuh berkubang, malah berdiri tegak dan berkibar menuai kesuksesan.

Lanjutan..!

07 October 2008


7 ELEMEN KEGAGALAN

Dalam sebuah konseling yang saya lakukan sebagai tanggung jawab profesi, seorang karyawan yang sedang merosot kinerjanya mengatakan bahwa ia telah gagal, sehingga kemudian ia bertanya bagaimana agar jadi sukses.

Saya jawab bahwa saya tidak tahu.

Dengan sedikit heran bercampur kesal, ia menanyakan fungsi konseling yang sedang dilakukan padanya, karena akan buang waktu saja jika saya tidak bisa membantunya menunjukkan jalan untuk keberhasilannya. Kemudian saya katakan bahwa saya dapat mengajarkan kepada anda bagaimana cara meraih keinginan, tapi persoalannya anda tidak mengatakan keinginan anda dengan jelas kepada saya.

Semua orang ingin bahagia, siapapun ingin sukses, ingin berhasil. Masalahnya, bahagia untuk apa? Sukses dalam bidang apa? Berhasil melakukan apa? Buram, samar. Definisi dari bahagia saja, tiap orang sudah berbeda. Demikian juga dengan sukses, berhasil. Tapi anda harus fokus pada apa yang menjadi keinginan, tindakan apa yang perlu diambil. Intinya tidak ada rahasia atau teknik khusus untuk jadi sukses atau berhasil. Sukses atau berhasil adalah buah dari persiapan, kerja keras dan belajar dari kesalahan.

Karyawan tersebut kemudian bercerita panjang tentang kegagalannya berumah-tangga, yang berakibat gagal dalam mengelola diri sendiri, sehingga berpengaruh besar pada hasil kerjanya.

Karena ia berfokus pada kegagalan, maka saya katakan “Baiklah! Mari kita lihat, apakah anda sudah benar-benar gagal, atau itu hanya pikiran anda saja.”

Untuk menjadi gagal (Failure), sedikitnya anda harus memiliki satu dari tujuh elemen kegagalan. Dan jika ternyata anda memiliki ketujuh unsur tersebut, maka keinginan anda untuk menjadi berhasil atau sukses menurut istilah anda, hanya akan menjadi mimpi di atas mimpi. Elemen tersebut adalah:
F – A – I – L – U – R - E
  1. Frustration (Frustasi)
  2. Aggressiveness (Menyerang orang lain)
  3. Insecurity (Merasa terancam)
  4. Loneliness (Merasa kesepian)
  5. Uncertainty (Merasa ragu-ragu)
  6. Resentment (Kecil hati)
  7. Emptiness (Merasa kosong)
Demikianlah, jika anda belum memiliki ketujuh elemen tersebut, maka anda bukanlah jatuh dalam kegagalan, tapi anda sedang menurun. Anda akan kembali naik menuju puncak keberhasilan, dengan memperbaiki atau menghilangkan elemen tersebut yang ada dalam diri anda.

Jakarta, 03 Oktober 2008
Salam Bahagia,
Mugi Subagyo

Catatan: Tulisan selengkapnya akan diposting saat berkesempatan, mengenai berpikir terbalik terhadap pemberian nasihat.

Lanjutan..!

13 March 2008


Keutamaan Ego dan Egois

“Ego”, “Egois”, apa yang salah dengan kata ini? Sehingga banyak orang mengajarkan untuk dapat mengalahkan ego, memerangi egois dan menganjurkan untuk mementingkan orang lain. Dengan berpikir terbalik, apakah saya salah karena bekerja demi memenuhi kebutuhan lahir dan batin? Bekerja untuk dapat menghidupi keluarga, membesarkan anak, membiayai sekolah? Salahkah saya dengan ego mengharuskan saya senantiasa belajar, baik formal ataupun non-formal yang bertujuan untuk menambah pengetahuan saya, meningkatkan kecerdasan? Dapatkah saya dikatakan keliru bila membina hubungan, berkorelasi dengan banyak orang dengan pengharapan punya banyak sahabat yang saling berempati? Dengan keyakinan agama yang saya anut, Apakah tidak dibenarkan berpantang minum minuman keras, berjudi atau berjina sementara banyak orang di sekeliling saya melakukannya? Saya menyisihkan sedikit rejeki yang saya dapat untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan, apakah saya berdosa karena dengan melakukan itu ada kepuasan batin dalam diri sendiri? Lantas setelah itu semua, dengan lantang saya dikatakan egois? Hanya karena saya merasa, berpikir dan bertindak yang hasil akhirnya untuk kepentingan diri saya sendiri.

Kalau saya berkorban sedikit untuk mendapatkan banyak, itu curang, bukan egois. Lalu saya mengambil hak anda tanpa memikirkan kerugian yang anda derita, itu merampas atau merampok, bukan egois. Kalau saya merasa lebih pintar, lebih penting, lebih berharga dari anda, artinya saya takabur, bukan egois. Kalau saya mencaplok sendiri rejeki kita bersama, itu serakah dan bukan egois. Lalu apa makna sesungguhnya dari kata “ego” atau “egois”?

“Ego” dapat dimaknai sebagai “aku; diri pribadi; rasa sadar akan diri sendiri; konsepsi individu tentang dirinya sendiri”. Tidak ada konotasi negatif dari arti kata ini. Justru merupakan langkah awal untuk segala yang bernama kebaikan, karena merupakan refleksi dari kesadaran individu mengenai dirinya sendiri. Kemudian kata ini mendapat akhiran menjadi “egois” yang berarti: orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dari sini kemudian kita melegitimasi dengan definisi bahwa orang yang egois (baca: mementingkan diri sendiri) adalah orang yang bertingkah laku buruk karena tidak memikirkan kepentingan atau kesejahteraan orang lain. Perilakunya cenderung destruktif karena hanya demi keuntungannya pribadi. Benarkah dengan merugikan orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri, orang ini akan mendapatkan keuntungan pada hasil akhir? Pantaskah orang seperti ini disebut egois? Buat saya: Tidak! Orang yang egois justru orang cerdas, berkepribadian luhur, disukai banyak orang, dan biasanya mereka adalah orang-orang sukses. Mengapa demikian? Mari kita cermati bersama!

Konsepsi Ego
Banyaknya legitimasi orang tentang buruknya ego dan sikap ke”aku”an, maka perlu diluruskan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena egolah yang harus bertindak lebih dulu sebelum tindakan lainnya. Egolah yang mengawali segala sesuatu yang baru sebelum mengambil langkah apa-pun. Sebelum bertindak tentu anda berpikir atau setidaknya merasa; sadarkah anda bahwa “aku”lah yang memulai pikiran itu, “aku”lah yang mengawali perasaan itu. Kapanpun anda bertindak, sadarilah bahwa “aku”lah yang memprakarsai tindakan itu. Bahkan saat Anda merenung dan berpikir mengenai diri anda sendiri, “aku”lah yang menguasai seluruh bidang kesadaran anda.

Untuk mudahnya, segala sesuatu yang anda cari tahu, baik tentang diri sendiri atau hal lain di luar diri, adalah diri anda sendiri atau ke”aku”an anda yang memutuskan sekaligus memerintahkan. Meski itu berupa paksaan dari luar, tetap ego anda yang paling berperan. Artinya bisa saja anda melakukan sesuatu karena terpaksa, tapi tetap saja hanya diri anda yang tahu bentuk apa yang anda lakukan karena keterpaksaan tersebut. Tidak seorangpun tahu isi pikiran anda, apalagi isi hati yang kesemuanya ada dalam “aku”.

Dengan ego, anda dapat memutuskan untuk berpikir positif atau sebaliknya, melakukan tindakan baik atau buruk, merasa bahagia atau sedih, berbuat sesuatu atau diam. Bahkan saat anda memutuskan menjadi orang sukses atau gagal, ego andalah yang melakukannya lebih dulu. Sebagai contoh: Betapa banyak orang yang menyadari kekuatan berpikir positif akan membawanya menuju puncak kesuksesan, tak terhitung jumlah orang yang tahu memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang akan menuntunnya menggenggam apa yang dicitakan. Namun mengapa bagian paling besar dari orang tersebut justru gagal? Jawaban ini telah kita ketahui bersama, yaitu kemauan. Kemauan kita untuk bertindak, berbuat dan terus komit pada jalur yang telah kita plot sendiri. Mau atau tidaknya anda berbuat, ego anda yang menentukan, “aku” dalam diri andalah yang memerintahkan .

Hal ini berkaitan dengan kurangnya kekuatan dan kesadaran akan diri sendiri terutama tentang egonya. Ego atau “aku”nya lah yang menyebabkan itu semua, egonya mengatakan bahwa segala hal dikerjakan mengalir saja tanpa fokus, tujuan jelas, kemudian pasrah pada hasil akhir, atau bagaimana nanti saja.

Untuk itu diperlukan pemahaman yang digeser dari definisi yang telah ada tentang ego atau egois. Formatlah mindset anda tentang makna ego yang sebenarnya dan penggunaannya dalam segala kondisi dengan mengenal diri sendiri, karena di situlah letak kekuatan yang dimiliki setiap orang.

Mengenal diri sendiri
Kata ke“aku”an dapat diartikan sebagai ego atau individualis. Sebuah prinsip yang menguasai diri manusia sebagai pusat dan sumber individualitas yang menjadi asal dari segala sesuatu yang muncul dalam diri manusia, sebagai sesuatu yang primer dan mensekunderkan hal lain dalam hakikat manusia.

Dengan kata lain, seorang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang berkenaan atau berkaitan dengan dirinya, adalah sebagai akibat dari pikiran, perasaan atau tindakannya terhadap diri sendiri, maka orang tersebut telah memahami dan meletakkan “aku”nya dalam posisi teratas. Mereka sadar bahwa kebahagiaan atau kesedihan adalah produk dari perasaannya yang diperintah oleh “aku. Positif atau negatif dari pikirannya adalah hasil dari instruksi “aku”. Bertindak atau tidak, baik atau buruk adalah “aku” yang berwenang penuh. Bahkan kepribadian anda, “aku” andalah yang mencetaknya.

Individualitas dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam diri manusia. Individualitas itulah yang memprakarsai, mengatur dan mengendalikan. Untuk itu menjadi hal yang sangat penting dengan memahami dan mengembangkan individualitas, agar anda dapat mengendalikan dan menggunakan kekuatan yang anda miliki dalam diri.

Bertindaklah bukan sebagai tubuh, bukan sebagai pikiran, bukan pula sebagai kepribadian, melainkan sebagi “aku”. Karena semakin anda memahami keutamaan posisi “aku”, akan semakin besar kekuatan untuk mengarahkan hal lain yang anda miliki. Eksistensi “aku” memiliki kedudukan lebih tinggi dari pikiran dan tubuh anda, sehingga “aku” memiliki kekuatan untuk menggunakan apa saja yang berada dalam pikiran dan tubuh anda. Sadarilah betapa tingginya keberadaan “aku” yang berarti anda sendiri, anda yang tertinggi, anda yang paling berkuasa atas diri sendiri, bukan orang lain, bukan lingkungan atau kondisi. Dengan demikian, semua tindakan anda akan berasal dari “aku”, maka anda dapat mengontrol dan mampu mengarahkan tindakan-tindakan itu secara sempurna. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika mereka sendiri tidak merubahnya?

Menjadi kuat dan menggunakannya
Kekuatan bukan untuk segelintir, tapi milik semua orang. Dengan “aku” yang mengarahkan tindakan anda, mulailah mendaki gunung kekuatan yang anda miliki, dan apapun yang terjadi jangan pernah turun. Jangan melemah karena penderitaan. Tidak seharusnya kita takut menderita, namun khawatirlah bila kita tidak memiliki kekuatan untuk menanggung penderitaan. Bulatkan tekad untuk tetap kuat, bertahan dengan bara semangat, tetap berpijak saat diguncang kesengsaraan, tidak terbang terbawa angin kemakmuran. Jangan kecewa apalagi patah semangat saat segala hal berlangsung tidak seperti yang dikehendaki. Tetaplah pada tekad awal anda untuk menjadikan segalanya terjadi seperti yang anda kehendaki. Orang yang teguh hati tidak akan berputus asa saat keadaan tidak seperti yang diharapkan. Keteguhan layaknya pupuk bagi kekuatan, hingga apapun kejadian dan kondisinya akan dipandang sebagai sesuatu yang menggembirakan. Kuatlah selalu, maka anda akan menjadi semakin kuat.

Dengan kekuatan tersebut, maka keinginan anda, perasaan, gagasan, pikiran dan tindakan anda menjadi positif dan konstruktif. Kabahagiaan atau kesedihan hanya akan menjadi bahan untuk dipelajari dan membentuk kepribadian yang luhur. Kekuatan yang anda miliki dari kesadaran akan posisi “aku” yang tertinggi, akan mampu mengarahkan dan menetapkan tindakan kita untuk terus menerus berusaha. Sehingga hasil apapun yang ingin dicapai akan terwujud.

Mempengaruhi orang lain
Jangan acungkan kekuatan anda pada orang lain, namun arahkan kekuatan itu pada diri anda sendiri melalui suatu cara yang akan membuat anda menjadi kuat, lebih positif, lebih berkemampuan, lebih efektif, dan lebih efisien. Selama anda bermetamorfosis dengan cara ini, kesuksesan pasti akan datang dengan sendirinya. Hanya ada satu cara mempengaruhi orang lain dengan cara yang sah yaitu melalui pengajaran berupa perbuatan, tanpa disertai niat untuk mempengaruhi. Anda hanya ingin memberi pengetahuan dan informasi, dan anda menanamkan pengaruh yang paling diperlukan tanpa menginginkan untuk melakukan hal itu.

Kalau anda menginginkan yang baik, buatlah diri anda jadi lebih baik. Jika anda ingin meraih cita-cita, buatlah diri anda menjadi ideal. Anda ingin punya teman yang lebih baik, buatlah diri anda menjadi teman yang lebih baik. Jika anda ingin bekerjasama dengan orang yang mempunyai nilai, jadikan diri anda sendiri lebih bernilai. Kalau anda ingin berurusan dengan orang yang kompromis, buatlah diri anda menjadi lebih kompromis. Kalau anda ingin memasuki berbagai kondisi dan keadaan yang lebih menyenangkan, buatlah diri anda sendiri menjadi lebih menyenangkan. Jika anda ingin dicintai pasangan hidup anda, buatlah diri anda menjadi orang yang mencintainya lebih. Mungkin anda akan bertemu dengan orang-orang yang sulit dimengerti, namun tetap berikanlah diri anda yang terbaik, meski itupun tidak akan pernah memuaskan semua orang.

Pada akhirnya, perkaranya adalah antara anda dengan Tuhan, bukan antara anda dengan mereka. Namun tidak ada alasan bagi diri atau kepribadian anda untuk menjadi mentah, tidak berbudi atau tidak berkembang. Dengan kesadaran akan ego atau “aku” dalam diri anda, teruslah membentuk diri anda menjadi yang terbaik. Jangan takut dikatakan egois, bila diri dan kepribadian anda dicintai banyak orang dan – Tuhan.

Jakarta, 13 Maret 2008
Mugi Subagyo

Lanjutan..!

05 March 2008


JANGAN MUDAH MEMINTA MAAF

Konsep berpikir terbalik kali ini adalah tentang sebuah kata yang katanya "Ajaib".

Kata “maaf” diartikan sebagai ampunan/pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Manifestasinya dalam hubungan bermasyarakat, bila seseorang melakukan apa yang dianggap sebagai kesalahan, maka dengan meminta maaf berarti telah diampuni/dibebaskan dari hukuman. Dengan kata lain bila bersalah, mintalah maaf, maka selesailah sudah masalah, tuntaslah persoalan, beres!

Apa betul demikian? Kalau benar seperti itu, tidak akan pernah kita lihat orang berkelahi di jalan cuma karena masalah sepele, misalnya kendaraan satu menyenggol kendaraan lain, sepeda motor melanggar pejalan kaki, atau pertengkaran lain. Padahal kita menyaksikan sendiri, dimana pihak yang salah telah meminta maaf. Lantas apa yang menyebabkan persoalan tersebut tidak kunjung selesai dengan baik, malah meruncing menjadi pertikaian? Ini dapat berarti bahwa di samping meminta maaf, ada hal lain yang lebih esensial. Hal mana perlu ditengok kembali, karena cukup jauh sudah kita ikut hanyut dengan pengertian bahwa segalanya dapat diselesaikan dengan “maaf”.

Meminta maaf erat kaitannya dengan memberi maaf, artinya bila ada seseorang yang meminta maaf, maka ada pihak di seberangnya yang memberi maaf. Memaafkan diartikan juga sebagai sikap dan tindakan mulia, tidak lagi menganggap salah bagi seseorang yang berbuat salah. Memaafkan adalah sifat yang diajarkan semua agama sebagai pengejawantahan dari kebaikan dan kebajikan manusia beriman.

Meminta maaf adalah hasil penalaran jernih atas kesadaran telah melakukan kekeliruan. Namun prakteknya, banyak orang meminta maaf bukan dilandasi kesadaran telah melakukan kesalahan, melainkan meminta maaf hanya demi menghindari hukuman. Mereka berkeyakinan dengan meminta maaf, maka orang wajib memaafkan (seperti diajarkan agama) yang berarti membebaskannya dari hukuman. Mereka lupa, bahwa memaafkan terbagi dalam dua kategori, yaitu memaafkan sebagai suatu sikap moral dan sebagai sikap hukum. Secara moral orang yang bersalah bisa dimaafkan, tetapi secara hukum, dia harus mempertanggung-jawabkan kesalahannya. Itu sebabnya proses hukum selalu diperlukan untuk memastikan seseorang bersalah atau tidaknya, karena menyangkut pertanggung-jawaban atas kesalahannya.

Tidak memaafkan bukan berarti dendam
Terjadi dilema bagi korban, dimana orang yang bersalah kepadanya berinisiatif memohon maaf dengan harapan si korban akan menanggapinya dengan semangat manusiawi yang sama pula. Di sini si korban khawatir bila memberikan respon positif, akan ditafsirkan secara sepihak sebagai akhir prosesnya mencari keadilan. Sebaliknya respon negatif yang diberikan akan dijadikan pintu masuk pelaku kriminal untuk mengekspos watak positifnya guna mencari dukungan sekaligus melecehkan korban dengan menyebut mereka sebagai manusia yang tidak berperi-kemanusiaan.

Untuk soal yang bobotnya lebih ringan, korban juga memiliki kekhawatiran bila maaf yang diberikan diartikan sebagai aborsi dari aneka kewajiban yang harus ditanggung peminta maaf.

Sebagai contoh mudahnya, saya pernah mengalami mobil yang dikendarai ditabrak sepeda motor dari belakang, padahal kondisi mobil saat itu sedang diam saat lampu merah. Kalau hanya menyenggol spion meski dengan sangat keras, atau menyerempet sisi mobil hingga meninggalkan jejak garis yang tidak dapat dihapus, biasanya saya langsung memaafkan dengan berpikir bahwa itu jauh lebih baik dibandingkan saya mengejar, menyumpah lalu bertengkar yang akhirnya menjadi semakin buruk. Namun kali ini motor yang menabrak tadi tidak bisa langsung jalan, jadi kami berurusan setelah meminggirkan kendaraan dan melihat penumpang tadi tidak terluka serius. Disaksikan kerumunan orang, penabrak mengemis-ngemis meminta maaf yang tentu saja langsung saya maafkan dengan syarat. Saya katakan bahwa maaf yang saya berikan tidak semerta-merta menghapuskan tanggung jawabnya memperbaiki kondisi mobil yang dirusaknya, dengan membebaninya biaya klaim administrasi asuransi kendaraan bermotor.

Tentu saja tindakan saya tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai dendam, karena dendam diartikan sebagai keinginan keras untuk membalas tindakan atau perbuatan yang merugikan saya. Artinya kalau saya tidak begitu saja memaafkan penabrak, bukan berarti saya dendam, tetapi sebatas meletakkan persoalannya secara proporsional. Memaafkan secara moral tidak berarti menghapuskan pertanggung-jawaban hukum seseorang yang bersalah, ini bisa menimbulkan pemaafan semu. Memaafkan tapi tidak tulus, mengampuni tapi tidak ikhlas. Bukan memaafkan model ini yang diajarkan agama.

Beratnya memberikan maaf kepada orang lain, lebih didominasi amarah dan benci karena merasa teraniaya. Jika persoalan memberikan maaf karena sebatas moral tanpa ada kesalahan atas pelanggaran hukum, akan lebih indah dan bermanfaat bila dengan mudah memaafkan bahkan sebelum orang yang bersalah tersebut meminta maaf, karena belum tentu orang yang kita anggap bersalah sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Lain halnya bila bersangkut-paut dengan pelanggaran hukum.

Jangan mudah meminta maaf
Ada kondisi yang membuat kita berpikir dan bertindak sekenanya tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain. Di jalan, dengan tanpa rasa bersalah kita dengan seenaknya memotong jalan kendaraan orang lain tanpa sinyal. Ketika bergaul, ucapan tanpa pikir panjang dapat menyakiti hati orang lain. Saat bekerja dengan separuh hati, berakibat hasil yang didapat tidak memuaskan, bahkan sering merugikan tempat kita bekerja. Keputusannya membuat kebijakan hanya menguntungkan diri sendiri, menindas kepentingan orang lain. Tak terhitung kesalahan yang telah diperbuat dengan sengaja, terlebih lagi kesalahan di luar kesadaran. Kemudian dengan mengandalkan kekuatan maaf, mereka cukup meminta maaf tanpa beban di hati atau jiwanya. Mereka meyakini bahwa setelah mulut berucap maaf dan dijawab dengan pemberian maaf, maka sudah terlepas pula tanggung-jawabnya.

Hidup memang diwarnai terang atau gelap, badai atau pelangi. Banyak badai yang terjadi karena kita sendiri yang membuatnya tanpa disadari. Cobalah sesekali menengok ke belakang, maka akan terlihat betapa panjang jejak kehancuran yang kita tinggalkan. Betapa banyak luka di hati orang-orang yang pernah kita sakiti. Itu semua tidak mudah terhapus hanya dengan kekuatan maaf, melainkan dengan tindakan. Tindakan yang menunjukkan bahwa maaf yang kita minta, lahir dari hati dan pikiran penuh kesadaran. Perbuatan yang sedikitnya memperbaiki masa kini dengan bercermin dari kesalahan yang telah lewat. Karena kita sadar bahwa kita tidak akan bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. Dengan demikian, bukan puing reruntuhan yang kita perlihatkan, tapi keindahan pelangi setelah badai.

Memang sudah kodrat kita sbg manusia tak luput dari kesalahan, akan tetapi kita diberikan akal pikiran, hati dan perasaan untuk dapat berpikir dan merasa apa yang yang baik, apa yang benar sebagai persiapan dalam melangkah. Setidaknya bukan sengaja melakukan kesalahan dengan mau mengerti dan berempati terhadap orang lain. Sehingga kita tidak terjebak dalam perangkap maaf yang dapat memudahkan seseorang untuk berbuat salah. Berpikir mudah untuk meminta maaf, akan mencetak pribadi yang cenderung terus menerus melakukan banyak kesalahan. Agama tidak mengajarkan orang untuk sering meminta maaf, melainkan keutamaan untuk memberi maaf.

Bagaimana pendapat Anda? Tak perlu meminta maaf bila tidak sepaham. Cukup tunjukkan kesalahan saya, kemudian bersiap menerima ucapan terima kasih dari saya.

Jakarta, 1 Maret 2008
Mugi Subagyo

Lanjutan..!

30 July 2007


CUSTOMER IS NOT A KING

Kesalahan utama penyebab jatuhnya perusahaan yang pernah saya bangun lebih dari 3 tahun adalah sebuah idiom: “Customer is a King”. Idiom ini cukup melekat kuat di hati dan pikiran kami sebagai pelaku dunia usaha, bahkan menjadi nyawa dalam menjalankan bisnis. Langkah-langkah kebijakan yang kami buat berlandaskan slogan tersebut, membuat keputusan menjadi tidak realistis, lebih mengutamakan pelanggan, bahkan banyak strategi bisnis yang digelontorkan adalah hasil dari intimidasi pelanggan.

Keyakinan menganggap pelanggan sebagai seorang raja, membuat situasi menjadi tidak kondusif. Sebagai contoh, ada seorang karyawan yang demi kedekatannya dengan pelanggan, menceritakan keburukan-keburukan manajemen perusahaan atau kejelekan rekan kerjanya, padahal si pelanggan tersebut tidak menanyakannya. Hal ini dimungkinkan, sebab si karyawan beranggapan dengan bercerita lebih dalam, akan membawa kedekatan yang lebih intim (personal) pada pelanggannya. Bahkan tidak jarang mereka melanggar aturan atau prosedur kerja yang telah ditetapkan, dengan alasan, bahwa itu semua keinginan pelanggan. Mereka berpikir bahwa Pelanggan adalah Raja, jadi harus dituruti semua keinginannya, karena keinginan seorang raja adalah titah.

Benarkah Pelanggan adalah Raja? Benarkah Pelanggan tidak pernah salah? Karena seorang raja selalu benar. Mengapa tidak jujur saja, bahwa dalam bisnis kita mencari keuntungan, bukan sekedar mencari pelanggan sebanyak-banyaknya. Karena pelanggan yang banyak jika hanya merugikan perusahaan, untuk apa dipertahankan. Apalagi banyak dunia usaha yang menjadikan idiom ini hanya sebagai pemikat terhadap calon pelanggan. Jadi, mari berpikir terbalik..!

Pelanggan bukanlah Raja.

Sikap yang tepat dalam memperlakukan dan menganggap pelanggan, adalah dengan memperhatikan hal-hal nyata berikut ini:

Memposisikan Pelanggan

Slogan yang dicanangkan perusahaan dengan menempatkan pelanggan sebagai raja, adalah sebuah pedagogi yang buruk, bahkan menjadikan citra pelanggan sebagai orang bodoh yang tak mengerti teknis. Pelanggan akan tinggi hati dan menuntut dunia usaha untuk melayaninya dengan bekerja benar (menurut kepentingan pelanggan), karena si Pelanggan merasa telah mengeluarkan uang untuk membayar. Seorang Customer Service atau karyawan lain yang berurusan dengan pelanggan macam ini, akan berpikir bahwa mereka berurusan dengan orang kaya yang tidak pintar. Karena setelah diberi penjelasan atas keluhannya, si Raja ini tidak mau tahu masalahnya, dia hanya mau beres. Padahal tiap permasalahan yang ada, bagi si karyawan atau dunia bisnis lainnya adalah sesuatu yang perlu dibereskan secepatnya, mereka sendiri tidak menginginkan ada masalah.

Inti dari slogan ini sebenarnya adalah pola pikir yang berorientasi pada kepuasan konsumen/pelanggan. Sekilas jargon ini tampak cocok untuk sebuah bisnis dengan komoditas utamanya adalah produk, atau lebih spesifik lagi berjenis consumer product. Selain itu, beberapa karakter bisnis bidang jasa juga bisa nampak seperti ini; misalnya transportasi. Dimana hampir semua maskapai penerbangan berusaha sebaik-baiknya dalam memberikan pelayanan. Ada model membership seperti GFF (Garuda Friquent Flyer), Ada online reservation seperti Air Asia, pelayanan yang sangat ramah dan masih banyak lagi.

Tidak semua bisnis jasa bisa menganggap konsumennya adalah raja, misalnya kesehatan atau bisnis pendidikan. Sebagai contoh adalah Rumah Sakit, dimana pasien adalah konsumen. Kepuasan konsumen disini adalah kesembuhan bagi dirinya. Lantas masihkah berlaku dengan mengatakan pasien adalah raja? Jika jawabannya: Ya, maka pihak rumah sakit wajib melakukan apa saja yang diinginkan pasien. Sedangkan dalam proses penyembuhan atau proses terapi, membutuhkan keterlibatan dari pasien itu sendiri. Pasien dapat berkompromi selama masih dalam anjuran pihak rumah sakit. Proses penyembuhan ini terkadang malah tidak menyenangkan, namun selama pasien dapat bekerjasama, niscaya kesembuhan bisa didapat. Begitupula dalam dunia pendidikan, kepuasan konsumen atau para siswa adalah mendapat ilmu atau keterampilan yang baik. Hal ini juga melibatkan siswa untuk memperoleh tujuan dengan didampingi guru/instruktur, karena perlu diingat, bahwa sebaik apapun sebuah sekolah atau lembaga pelatihan keterampilan, tidak ada yang bisa mencetak siswa menjadi sempurna, tanpa kemauan atau keterlibatan dari diri siswa itu sendiri.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa menempatkan konsumen sebagai raja, akan membawa dampak buruk bagi kemajuan dunia usaha. Bukankah lebih baik, bila kita menempatkan konsumen sebagai mitra/rekan kerja yang saling berkorelasi. Rekan kerja harus mempunyai andil dalam mencapai tujuan bersama. Artinya bila konsumen mengharapkan kepuasan akan sebuah produk baik barang ataupun jasa, maka pelanggan tersebut juga ikut memenuhi kewajibannya untuk dapat memperoleh haknya.

Win-win Transaction

Bila konsumen/pelanggan/customer adalah mitra dari perusahaan, maka ia akan memberikan andil yang berguna bagi kemajuan usaha. Dari produk barang atau jasa yang ia pilih, ada timbal balik yang sesuai dengan nilai yang dibayarnya, sehingga kedua pihak mendapat keuntungan. Perusahaan memberikan produk terbaiknya, pelayanan yang diutamakan, juga ajakan kepada konsumen untuk menyumbang saran demi perbaikan yang berkelanjutan. Disini terjadi simbiosis yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Berbeda jika dunia usaha menganggap konsumennya raja, maka dengan alasan takut kehilangan pelanggan, kemudian melakukan semua permintaan pelanggan. Banyak kita jumpai pelanggan yang berpura-pura mengeluh tentang buruknya suatu produk, agar mereka mendapatkan potongan harga sebanyak-banyak, bahkan jika mungkin; gratis. Adapula pelanggan yang memberitahu tentang harga yang terlalu tinggi dibandingkan tempat lain, maka sebagai pihak penjual produk, kita harus dapat meyakinkan ke pelanggan akan kelebihan atau keistimewaan dari produk bila dibandingkan dengan tempat lain.

Bob Sadino, seorang entrepreneur sejati, pernah mencontohkan tentang karyawannya yang menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 400,-; hasilnya kangkung tersebut tidak laku terjual. Konsumen merasa kangkung yang dijual adalah kangkung mutu rendah, sehingga pasti tidak baik dan tidak enak untuk dikonsumsi. Ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda saat mengkonsumsi kangkung mahal, mereka makan sambil menghitung diam-diam kangkung mahal tersebut, dan ia nikmati. Ini adalah contoh bagus tentang trik marketing.

Bedakan Pelanggan dengan Kriminal

Seorang pengusaha harus mampu membedakan potensi yang dimiliki masing-masing pelanggan, artinya tidak hanya memandang pelanggan yang notabene sebuah perusahaan besar, tapi perlu juga dilihat track recordnya. Beberapa perusahaan besar tidak memiliki potensi yang juga besar sebagai pelanggan. Mereka cenderung mengulur waktu pembayaran, dan tak jarang berbilang bulan bahkan tahunan. Pelanggan seperti ini, menurut FX Tjokro Hadi Soesilo (Pakar Sales & Manajemen) masuk dalam kategori pelaku kriminal. Meskipun besar, perusahaan seperti ini tidak selayaknya dipertahankan sebagai pelanggan.

Anda tak Dapat Memuaskan Semua Pihak

Dengan mengikuti penuh apa yang disarankan pelanggan, tidak berarti Anda dapat memuaskan mereka. Selain kepuasan adalah hal nisbi, kepuasan seorang pelanggan bisa jadi ketidak-puasan pelanggan lainnya. Kebijakan yang dibuat perusahaan untuk memuaskan seseorang pelanggan, dapat menjadi kekecewaan pelanggan yang lain.

Sebagai contoh mudah; Jika Anda seorang pengusaha yang memproduksi sepatu misalnya. Kemudian Anda mengikuti saran pelanggan yang meminta harga lebih rendah dari yang ditetapkan sebelumnya, dan mereka menerima jika beberapa bahan baku diturunkan kwalitasnya, sebagai konsekuensi dalam biaya pembuatan. Boleh jadi pelanggan tersebut menerima dengan senang hati dan menjalankan usahanya lebih lancar. Tapi bagaimana dengan pelanggan yang lain? Pelanggan yang mengutamakan mutu, kwalitas dari sepatu yang Anda produksi. Mereka akan kecewa dan kemungkinannya mereka akan menarik diri sebagai pelanggan, untuk kemudian mencari produsen sepatu lainnya.

Jadi sebagai pengusaha, Anda perlu membuat kebijakan yang menguntungkan kedua pihak, pihak pertama adalah Anda sendiri dan pihak lain adalah pelanggan secara umum. Dalam arti segala kebijakan yang dibuat perlu diperhatikan kepuasan rata-rata pelanggan, dan tentunya tidak membuat rugi usaha yang Anda jalankan.

Kapan berkata “Ya” dan kapan bilang “Tidak, tapi…”

Ada seorang customer service yang membuat saya salut atas jawaban yang diberikan, ketika saya memintanya untuk memberikan kwalitas terbaik namun dengan potongan harga yang lumayan. Saat itu saya merasa telah cukup lama menjadi pelanggan tetapnya yang setia. Jawaban yang diberikan adalah:

“Maaf Pak, Kami tidak bisa memberikan potongan harga untuk produk berkwalitas Kami, namun karena Bapak adalah pelanggan setia kami, maka permintaan Bapak akan saya sampaikan kepada pihak manajemen.”

Disini, si karyawan jelas mengatakan “Tidak!”, namun ia pandai dengan jawabannya yang membuat saya tidak tersinggung dan memberikan sedikit harapan. Perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja, benar-benar tahu memposisikan pelanggan. Mereka tidak menganggap Pelanggan adalah Raja (karena tidak terdapat slogan ini yang biasanya ditempel pada dinding ruang kerja mereka), tapi mereka tahu kapan berkata “Ya” dan kapan berkata “Tidak, tapi…”.

Pernah juga di lain kesempatan saya memintanya untuk melakukan sesuatu yang di luar prosedur kerjanya. Karyawan tersebut dengan tegas mengatakan “Tidak” sambil menjelaskan alasannya, bahwa itu semua sudah ada dalam prosedur kerja yang telah kami sepakati, jadi tak bisa dilanggar.

Bisa Anda bayangkan jika karyawan tersebut selalu menjawab “Ya”, karena alasannya Pelanggan adalah Raja, maka Usaha Anda akan bangkrut dalam waktu singkat. Anda tidak dapat menyalahkan karyawan, karena ia bekerja sesuai dengan apa yang telah Anda doktrinkan.

Buat Segalanya Tertulis

Meskipun Anda telah menjalin kerjasama yang cukup lama dengan seorang pelanggan, sebaiknya segala transaksi atau kesepakatan yang dibuat, semuanya tertera di atas kertas, tertulis dengan tanda-tangan masing-masing pihak, bila perlu gunakan saksi. Ini berguna untuk mencegah hal-hal yan tidak diinginkan yan mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Perjanjian yang tertulis juga dapat memotivasi pihak terkait, untuk melakukan segala kesepakatan dan tidak bermaksud melanggar, karena ada sanksi yang dikenakan.

Jika Anda tidak melakukan ini, dengan hanya mengandalkan kepercayaan, niscaya akan menemui kesulitan yang kemungkinan besar terjadi di masa datang, belum lagi ditambah dengan sifat dasar manusia yang pelupa. Saat ini mungkin Anda ingat, tapi nanti. Urusan Anda bukan hanya memikirkan satu hal saja bukan? Pelanggan Andapun bukan hanya seorang, dan urusan Anda tidak melulu tentang bisnis, banyak hal lain yang juga Anda pikirkan, mulai dari keluarga, orangtua, saudara dan banyak lagi.

Kunci Sukses Menjual Lebih Banyak

Robert W. Bly dalam bukunya “Fool-Proof Marketing” menjelaskan beberapa metode yang efektif dalam menjual produk atau jasa apapun, bahkan dalam kondisi ekonomi apapun. Buku ini menjelaskan meski kondisi ekonomi secara umum sedang buruk, keberhasilan untuk menjual lebih banyak produk ataupun jasa kepada pelanggan, sangat bergantung pada kemampuan Anda dalam membangun hubungan baik dengan mereka. Melalui perjanjian yang adil bagi kedua pihak, frekwensi berhubungan dan komunikasi langsung, akan mampu meningkatkan tujuan Anda. Berikut ini adalah beberapa idenya:

  • Buat penawaran khusus bagi pelanggan aktif Anda dengan tenggat waktu yang pendek, sehingga mereka harus mengambil keputusan dalam waktu dekat. Sampaikan penawaran ini melalui media komunikasi yang cepat dan murah, misal: email, fax atau telpon.
  • Luangkan waktu untuk pelanggan inti, meski kondisi bisnis mereka saat ini sedang memburuk, tapi perhatian pribadi yang Anda berikan, misalnya mengundang mereka makan siang, makan malam atau mengajak mereka untuk melakukan hobynya, akan membuat mereka selalu ingat dan dihargai pada saat kondisi bisnisnya membaik kembali. Hubungi pula pelanggan setia Anda yang mungkin belakangan ini tidak Anda pedulikan.
  • Selalu berhubungan dengan pelanggan, meski saat ini mereka tidak sedang berbisnis dengan Anda. Juga hubungi pelanggan inti yang masih aktif, tanyakan pada mereka, apakah puas dengan produk yang mereka beli, apa saran mereka untuk dapat Anda lakukan agar mereka lebih puas lagi.
  • Salah satu kesalahan utama dari pemasaran adalah selalu berusaha meluaskan usaha untuk memperoleh hasil lebih banyak. Lebih baik Anda fokus pada bagaimana dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan yang sudah ada.
  • Memahami kondisi pelanggan Anda. Dalam perusahaan langganan Anda mungkin terjadi perubahan rencana hingga membatasi anggaran, disini Anda dapat membantu mereka mengatasi masalah tersebut dengan memberikan penawaran yang dapat menggunakan sisa anggaran yang ada atau yang tidak memerlukan pengesahan dari manajemen senior.
Jadi berikan perhatian khusus bagi kepuasan konsumen atau pelanggan Anda, bukan menganggap mereka sebagai raja. Bedakan konsep “Kepuasan Pelanggan” dengan konsep “Pelanggan adalah Raja”. Raja tidak bisa salah, pelanggan bisa salah, meski salah dan benar juga tidak absolut, tapi merajakan pelanggan berarti Anda harus memberikan pelayanan apapun, tanpa melihat benar atau salah. Ini sangat berbahaya dan tidak termasuk dalam konsep kepuasan pelanggan.

Semoga Berbahagia
Mugi Subagyo

Lanjutan..!

Islamic Calendar Widgets by Alhabib



Kecantikan seseorang harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada.

Home-Berpikir Terbalik Artikel Tanah Air-ku Cerpen-nya Mugi Novel-nya Mugi Hobinya Mugi Tips & Trik Desain Sumber Daya Manusia Buku Gratis Galeriku Alumni SMAN 79 Alumni STMIK Indonesia