<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094</id><updated>2012-02-02T23:06:18.267+07:00</updated><title type='text'>Berpikir Terbalik</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-3210354798126434267</id><published>2010-12-17T02:32:00.008+07:00</published><updated>2010-12-17T18:07:05.765+07:00</updated><title type='text'>MANISNYA PEMBALASAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/revenge2.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 129px; height: 194px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/revenge2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam kehidupan: Sakit hati, kebencian dan dendam dapat dijadikan kekuatan pembangkit yang dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembalasan adalah respon terhadap sesuatu yang dianggap sebagai ketidak-adilan dan biasanya reaksi ini sangat parah akibat ego yang terluka. Bagi seorang eksekutif yang “takhtanya”-nya direbut, maka tidak ada upaya yang lebih memuaskan selain merebutnya kembali. Steve Jobs, yang didepak dari Apple Computer Inc, pada 1985 tapi kemudian berhasil kembali memimpin sejak 1997, bukan satu-satunya contoh orang yang berhasil memenangi pertarungan yang hampir mustahil. Banyak sudah dicontohkan mulai dari film (kung fu, action, fiksi, perang, drama, komedi dll) sampai dalam kehidupan nyata di dunia bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aksi balas dendam akan terkenal selama berlangsung di posisi puncak, namun ruang kerja karyawan biasa, juga tak bisa luput dari sabotase. Pengunduran diri atau pemecatan bukan satu-satunya kondisi yang memicu orang untuk membuat perhitungan. Dari balas dendam terhadap rekan sekerja yang mencari-cari atau membesar-besarkan kesalahan, menyudutkan, menampik ide, pengecaman di depan umum, pemotongan anggaran tanpa kejelasan sampai dendam di antara para manajer level menengah yang bersaing memperebutkan jabatan, pembalasan juga memiliki peranan dalam skenario kehidupan yang lebih biasa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita paling menghebohkan tentang balas dendam yang dilakukan oleh karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, menimpa sebuah perusahaan manufaktur di US (www.foxnews.com : Thursday, January 24, 2008). Marie Lupe Cooley mengira bahwa pekerjannya di Jacksonville, Fla. Berada dalam bahaya saat melihat iklan lowongan kerja dipasang di sebuah koran setempat yang tampaknya akan mencari kandidat untuk mengisi posisinya. Dia mengira akan mengalami pemutusan hubungan kerja, sehingga memutuskan datang ke kantor hari Minggu dan menghapus semua data-data penting dari sistem komputer perusahaan (Data 7 thn senilai $2.5 juta). Tindakannya melakukan sabotase merupakan contoh berharga bagi karyawan yang bertindak gegabah tanpa berpikir panjang. Keputusan impulsif ini akhirnya mengantarkan Cooley ke balik jeruji besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk balas dendam merupakan salah satu dorongan manusiawi yang tersembunyi di balik prilaku eksekutif. Meski tabu dibicarakan dalam forum bahwa balas dendam dapat dijadikan pemicu sukses yang signifikan, tapi hal ini benar-benar terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana kita dapat melakukan pembalasan namun tidak terjebak dalam fallacy (buah pikiran yang keliru), dimana sebuah penalaran atau pemikiran menghasilkan kesimpulan yang nampak benar, namun secara aktual justru salah? Dan bagaimana agar dapat menduduki sebuah jabatan yang diincar dalam ranah persaingan yang penuh intrik dan mengundang ketidak-adilan? Sehingga saat terpilih, kita adalah pemimpin hasil sebuah bentukan, bukan pemimpin yang lahir karena kecelakaan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JADILAH TERANG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah melawan kejahatan dengan kejahatan, ketidak-adilan dengan ketidak-adilan. Tidak perlu membuang energi untuk melawan kegelapan, cukup buat diri ini bersinar semakin terang, maka kegelapan akan hilang dengan sendirinya. Fokuslah bahwa permasalahan ada dalam diri kita bukan orang lain, karena yang ada pada diri sendirilah yang dapat kita perbaiki, pertahankan dan tingkatkan. Namun akan menjadi mustahil diperbaiki jika permasalahan yang kita yakini ada pada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah pribadi yang transfaran sebagai pilar integritas dan kejujuran melalui teladan kehidupan. Dengan transfaransi, kita akan menjadi orang atau pemimpin yang terbuka, menjadi teladan bagi karyawan lain. Tidak perduli Anda pintar atau tidak, kaya atau tidak, menjadi orang yang memiliki integritas, kejujuran dan keteguhan adalah kewajiban sekaligus hak tiap orang sejak manusia diciptakan. Meskipun pada awalnya agak memaksakan diri, integritas perlu dirangsang, dipaksa, dilatih bahkan dipertontonkan hingga akan menjadi refleks kecerdasan di kelak kemudian. Jika Anda memiliki kualitas seperti itu, percayalah! Bahkan kemiskinan pun tak dapat menundukkan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FASTER, HARDER DAN SMARTER TIDAKLAH CUKUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pola pikir atau mindset  ini akan membuat kita mendapat dorongan bahwa semakin cepat, keras dan cerdas kita bekerja, maka semakin besar pula reward yang kita terima. Dengan begitu tantangan yang tersedia akan semakin besar dan membuat orang terpacu mengejar target yang menjadi tanggung-jawabnya. Sehingga tercipta karyawan yang target oriented dan menjelma menjadi orang mementingkan diri sendiri atau kelompoknya tanpa memikirkan kebersamaan yang diperlukan suatu tim dalam sebuah organisasi atau perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dibarengi dengan kenaikan gaji atau reward lainnnya, namun dengan segera gaji yang diterima akan dirasa tidak seimbang. Kita merasa telah terlalu banyak bekerja, berjuang demi perusahaan, bekerja lebih dibanding orang lain, sementara yang didapat sangat kecil. Kondisi lain yang memperparah adalah mengetahui bahwa yang lain juga mendapat kenaikan gaji, lalu beranggapan PGPW (Pinter Goblok Podo Wae/ Pinter Goblok Sama Saja), lantas semangat kerja merosot, timbul iri merasa diperlakukan tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disadari bahwa Faster, Harder dan Smarter adalah pola pikir reaktif yang berupa solusi sementara. Pemahamannya sebagai berikut: Faster, Meningkatkan kecepatan atas pekerjaan Anda untuk mengejar, bertahan dan berjalan. Harder, Meningkatkan intensitas usaha Anda dalam rangka mengendalikan, memperbaiki dan mendominasi. Smarter, Meningkatkan know-how Anda untuk mengecoh, mengakali atau menyiasati suatu kemenangan. Hal ini dapat menjadi batu sandungan di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu ditambahkan pola pikir yang kreatif dengan: Richer, Meningkatkan level kesadaran Anda untuk mengeluarkan potensi tersembunyi dalam situasi Anda. Deeper, Memperluas dalamnya penghargaan Anda terhadap hubungan manusia untuk mempercepat kemajuan dan sinergi. Wiser, Memperluas pengertian Anda tentang bagaimana dan mengapa dunia dapat menciptakan kemungkinan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You see things and say ‘Why?’ but I dream things that never were and I say ‘Why not?’.” (George Bernard Shaw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KELOLA TEKANAN HIDUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan akibat dari tekanan hidup atas perlakuan yang tidak adil, sangat memungkinkan menimbulkan reaksi balas dendam. Namun sadarilah! Kemarahan sesungguhnya bukan bersumber pada besarnya hinaan atau perlakuan yang tidak adil, tapi lebih merupakan kerapuhan pada diri sendiri. Bahkan saat mental ini sedang sangat rapuhnya, maka hal sepele sekalipun dapat kita curigai sebagai sebuah penghinaan. Tapi bila mental pertahanan kita kuat, maka kita dapat melihat dengan cara yang berbeda. Karena kita tidak akan pernah bisa marah, sakit hati sedih bahkan senang sekalipun bila kita tidak mengijinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saat Anda memangku tekanan hidup, diamlah sejenak, lihat sekitar anda atau pikiran Anda, temukan obatnya. Lihatlah hal yang berbeda, karena biasanya obat untuk itu berada tidak jauh dari kita, misal: senyum anak-anak kita, kesabaran istri kita, atau tersenyumlah.. tanpa sebab. Anda akan rasakan gumpalan hitam tekanan hidup tadi menguap berganti indahnya cahaya pelangi. Bila Anda merasakan hal yang tidak enak atau tidak baik, Hentikan! Jangan Anda ijinkan. Hal ini merupakan indikasi bahwa Anda sedang memikirkan hal yang tidak baik. Ubah perasaan tadi dengan seketika, maka pikiran Anda akan berubah, kesedihan menjadi kegembiraan, Kesulitan menjadi kemudahan dan tekanan menjadi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMBALAS DENDAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati keindahan balas dendam, tidak perlu melakukan pembalasan aktif, kemudian merasakan kepuasan melihat hukuman yang dialami pihak yang pernah mempersulit kita dengan menari di atas penderitaan orang lain (shadenfreude). Cukup dengan melakukan hal di atas, maka mereka akan menderita secara psikologis demi melihat Anda tidak jatuh berkubang, malah berdiri tegak dan berkibar menuai kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-3210354798126434267?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/3210354798126434267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=3210354798126434267&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/3210354798126434267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/3210354798126434267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2010/12/manisnya-pembalasan.html' title='MANISNYA PEMBALASAN'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-516198217893547693</id><published>2008-10-07T19:18:00.011+07:00</published><updated>2010-01-11T22:52:18.575+07:00</updated><title type='text'>7 ELEMEN KEGAGALAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/bohlam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 101px; height: 144px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/bohlam.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah konseling yang saya lakukan sebagai tanggung jawab profesi, seorang karyawan yang sedang merosot kinerjanya mengatakan bahwa ia telah gagal, sehingga kemudian ia bertanya bagaimana agar jadi sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab bahwa saya tidak tahu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit heran bercampur kesal, ia menanyakan fungsi konseling yang sedang dilakukan padanya, karena akan buang waktu saja jika saya tidak bisa membantunya menunjukkan jalan untuk keberhasilannya. Kemudian saya katakan bahwa saya dapat mengajarkan kepada anda bagaimana cara meraih keinginan, tapi persoalannya anda tidak mengatakan keinginan anda dengan jelas kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang ingin bahagia, siapapun ingin sukses, ingin berhasil. Masalahnya, bahagia untuk apa? Sukses dalam bidang apa? Berhasil melakukan apa? Buram, samar. Definisi dari bahagia saja, tiap orang sudah berbeda. Demikian juga dengan sukses, berhasil. Tapi anda harus fokus pada apa yang menjadi keinginan, tindakan apa yang perlu diambil. Intinya tidak ada rahasia atau teknik khusus untuk jadi sukses atau berhasil. Sukses atau berhasil adalah buah dari persiapan, kerja keras dan belajar dari kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan tersebut kemudian bercerita panjang tentang kegagalannya berumah-tangga, yang berakibat gagal dalam mengelola diri sendiri, sehingga berpengaruh besar pada hasil kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia berfokus pada kegagalan, maka saya katakan “Baiklah! Mari kita lihat, apakah anda sudah benar-benar gagal, atau itu hanya pikiran anda saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi gagal (Failure), sedikitnya anda harus memiliki satu dari tujuh elemen kegagalan. Dan jika ternyata anda memiliki ketujuh unsur tersebut, maka keinginan anda untuk menjadi berhasil atau sukses menurut istilah anda, hanya akan menjadi mimpi di atas mimpi. Elemen tersebut adalah:&lt;br /&gt;F – A – I – L – U – R - E&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Frustration (Frustasi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aggressiveness (Menyerang orang lain)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Insecurity (Merasa terancam)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Loneliness (Merasa kesepian)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Uncertainty (Merasa ragu-ragu)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Resentment (Kecil hati)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Emptiness (Merasa kosong)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Demikianlah, jika anda belum memiliki ketujuh elemen tersebut, maka anda bukanlah jatuh dalam kegagalan, tapi anda sedang menurun. Anda akan kembali naik menuju puncak keberhasilan, dengan memperbaiki atau menghilangkan elemen tersebut yang ada dalam diri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 03 Oktober 2008&lt;br /&gt;Salam Bahagia,&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Catatan: Tulisan selengkapnya akan diposting saat berkesempatan, mengenai berpikir terbalik terhadap pemberian nasihat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-516198217893547693?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/516198217893547693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=516198217893547693&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/516198217893547693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/516198217893547693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2008/10/7-elemen-kegagalan.html' title='7 ELEMEN KEGAGALAN'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/th_bohlam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-7114630562328660995</id><published>2008-03-13T08:22:00.011+07:00</published><updated>2010-09-13T00:27:02.916+07:00</updated><title type='text'>Keutamaan Ego dan Egois</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/dollar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 108px; height: 140px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/dollar.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ego”, “Egois”, apa yang salah dengan kata ini? Sehingga banyak orang mengajarkan untuk dapat mengalahkan ego, memerangi egois dan menganjurkan untuk mementingkan orang lain. Dengan berpikir terbalik, apakah saya salah karena bekerja demi memenuhi kebutuhan lahir dan batin? Bekerja untuk dapat menghidupi keluarga, membesarkan anak, membiayai sekolah? Salahkah saya dengan ego mengharuskan saya senantiasa belajar, baik formal ataupun non-formal yang bertujuan untuk menambah pengetahuan saya, meningkatkan kecerdasan? Dapatkah saya dikatakan keliru bila membina hubungan, berkorelasi dengan banyak orang dengan pengharapan punya banyak sahabat yang saling berempati? Dengan keyakinan agama yang saya anut, Apakah tidak dibenarkan berpantang minum minuman keras, berjudi atau berjina sementara banyak orang di sekeliling saya melakukannya? Saya menyisihkan sedikit rejeki yang saya dapat untuk diberikan pada orang lain yang membutuhkan, apakah saya berdosa karena dengan melakukan itu ada kepuasan batin dalam diri sendiri? Lantas setelah itu semua, dengan lantang saya dikatakan egois? Hanya karena saya merasa, berpikir dan bertindak yang hasil akhirnya untuk kepentingan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya berkorban sedikit untuk mendapatkan banyak, itu curang, bukan egois. Lalu saya mengambil hak anda tanpa memikirkan kerugian yang anda derita, itu merampas atau merampok, bukan egois. Kalau saya merasa lebih pintar, lebih penting, lebih berharga dari anda, artinya saya takabur, bukan egois. Kalau saya mencaplok sendiri rejeki kita bersama, itu serakah dan bukan egois. Lalu apa makna sesungguhnya dari kata “ego” atau “egois”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ego” dapat dimaknai sebagai “aku; diri pribadi; rasa sadar akan diri sendiri; konsepsi individu tentang dirinya sendiri”. Tidak ada konotasi negatif dari arti kata ini. Justru merupakan langkah awal untuk segala yang bernama kebaikan, karena merupakan refleksi dari kesadaran individu mengenai dirinya sendiri. Kemudian kata ini mendapat akhiran menjadi “egois” yang berarti: orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dari sini kemudian kita melegitimasi dengan definisi bahwa orang yang egois (baca: mementingkan diri sendiri) adalah orang yang bertingkah laku buruk karena tidak memikirkan kepentingan atau kesejahteraan orang lain. Perilakunya cenderung destruktif karena hanya demi keuntungannya pribadi. Benarkah dengan merugikan orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri, orang ini akan mendapatkan keuntungan pada hasil akhir? Pantaskah orang seperti ini disebut egois? Buat saya: Tidak! Orang yang egois justru orang cerdas, berkepribadian luhur, disukai banyak orang, dan biasanya mereka adalah orang-orang sukses. Mengapa demikian? Mari kita cermati bersama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsepsi Ego&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya legitimasi orang tentang buruknya ego dan sikap ke”aku”an, maka perlu diluruskan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena egolah yang harus bertindak lebih dulu sebelum tindakan lainnya. Egolah yang mengawali segala sesuatu yang baru sebelum mengambil langkah apa-pun. Sebelum bertindak tentu anda berpikir atau setidaknya merasa; sadarkah anda bahwa “aku”lah yang memulai pikiran itu, “aku”lah yang mengawali perasaan itu. Kapanpun anda bertindak, sadarilah bahwa “aku”lah yang memprakarsai tindakan itu. Bahkan saat Anda merenung dan berpikir mengenai diri anda sendiri, “aku”lah yang menguasai seluruh bidang kesadaran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mudahnya, segala sesuatu yang anda cari tahu, baik tentang diri sendiri atau hal lain di luar diri, adalah diri anda sendiri atau ke”aku”an anda yang memutuskan sekaligus memerintahkan. Meski itu berupa paksaan dari luar, tetap ego anda yang paling berperan. Artinya bisa saja anda melakukan sesuatu karena terpaksa, tapi tetap saja hanya diri anda yang tahu bentuk apa yang anda lakukan karena keterpaksaan tersebut. Tidak seorangpun tahu isi pikiran anda, apalagi isi hati yang kesemuanya ada dalam “aku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ego, anda dapat memutuskan untuk berpikir positif atau sebaliknya, melakukan tindakan baik atau buruk, merasa bahagia atau sedih, berbuat sesuatu atau diam. Bahkan saat anda memutuskan menjadi orang sukses atau gagal, ego andalah yang melakukannya lebih dulu. Sebagai contoh: Betapa banyak orang yang menyadari kekuatan berpikir positif akan membawanya menuju puncak kesuksesan, tak terhitung jumlah orang yang tahu memotivasi diri untuk melakukan tindakan yang akan menuntunnya menggenggam apa yang dicitakan. Namun mengapa bagian paling besar dari orang tersebut justru gagal? Jawaban ini telah kita ketahui bersama, yaitu kemauan. Kemauan kita untuk bertindak, berbuat dan terus komit pada jalur yang telah kita plot sendiri. Mau atau tidaknya anda berbuat, ego anda yang menentukan, “aku” dalam diri andalah yang memerintahkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berkaitan dengan kurangnya kekuatan dan kesadaran akan diri sendiri terutama tentang egonya. Ego atau “aku”nya lah yang menyebabkan itu semua, egonya mengatakan bahwa segala hal dikerjakan mengalir saja tanpa fokus, tujuan jelas, kemudian pasrah pada hasil akhir, atau bagaimana nanti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan pemahaman yang digeser dari definisi yang telah ada tentang ego atau egois. Formatlah mindset anda tentang makna ego yang sebenarnya dan penggunaannya dalam segala kondisi dengan mengenal diri sendiri, karena di situlah letak kekuatan yang dimiliki setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengenal diri sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata ke“aku”an dapat diartikan sebagai ego atau individualis. Sebuah prinsip yang menguasai diri manusia sebagai pusat dan sumber individualitas yang menjadi asal dari segala sesuatu yang muncul dalam diri manusia, sebagai sesuatu yang primer dan mensekunderkan hal lain dalam hakikat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, seorang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang berkenaan atau berkaitan dengan dirinya, adalah sebagai akibat dari pikiran, perasaan atau tindakannya terhadap diri sendiri, maka orang tersebut telah memahami dan meletakkan “aku”nya dalam posisi teratas. Mereka sadar bahwa kebahagiaan atau kesedihan adalah produk dari perasaannya yang diperintah oleh “aku. Positif atau negatif dari pikirannya adalah hasil dari instruksi “aku”. Bertindak atau tidak, baik atau buruk adalah “aku” yang berwenang penuh. Bahkan kepribadian anda, “aku” andalah yang mencetaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individualitas dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam diri manusia. Individualitas itulah yang memprakarsai, mengatur dan mengendalikan. Untuk itu menjadi hal yang sangat penting dengan memahami dan mengembangkan individualitas, agar anda dapat mengendalikan dan menggunakan kekuatan yang anda miliki dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertindaklah bukan sebagai tubuh, bukan sebagai pikiran, bukan pula sebagai kepribadian, melainkan sebagi “aku”. Karena semakin anda memahami keutamaan posisi “aku”, akan semakin besar kekuatan untuk mengarahkan hal lain yang anda miliki. Eksistensi “aku” memiliki kedudukan lebih tinggi dari pikiran dan tubuh anda, sehingga “aku” memiliki kekuatan untuk menggunakan apa saja yang berada dalam pikiran dan tubuh anda.   Sadarilah betapa tingginya keberadaan “aku” yang berarti anda sendiri, anda yang tertinggi, anda yang paling berkuasa atas diri sendiri, bukan orang lain, bukan lingkungan atau kondisi. Dengan demikian, semua tindakan anda akan berasal dari “aku”, maka anda dapat mengontrol dan mampu mengarahkan tindakan-tindakan itu secara sempurna. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika mereka sendiri tidak merubahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi kuat dan menggunakannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan bukan untuk segelintir, tapi milik semua orang. Dengan “aku” yang mengarahkan tindakan anda, mulailah mendaki gunung kekuatan yang anda miliki, dan apapun yang terjadi jangan pernah turun. Jangan melemah karena penderitaan. Tidak seharusnya kita takut menderita, namun khawatirlah bila kita tidak memiliki kekuatan untuk menanggung penderitaan. Bulatkan tekad untuk tetap kuat, bertahan dengan bara semangat, tetap berpijak saat diguncang kesengsaraan, tidak terbang terbawa angin kemakmuran. Jangan kecewa apalagi patah semangat saat segala hal berlangsung tidak seperti yang dikehendaki. Tetaplah pada tekad awal anda untuk menjadikan segalanya terjadi seperti yang anda kehendaki. Orang yang teguh hati tidak akan berputus asa saat keadaan tidak seperti yang diharapkan. Keteguhan layaknya pupuk bagi kekuatan, hingga apapun kejadian dan kondisinya akan dipandang sebagai sesuatu yang menggembirakan. Kuatlah selalu, maka anda akan menjadi semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan tersebut, maka keinginan anda, perasaan, gagasan, pikiran dan tindakan anda menjadi positif dan konstruktif. Kabahagiaan atau kesedihan hanya akan menjadi bahan untuk dipelajari dan membentuk kepribadian yang luhur. Kekuatan yang anda miliki dari kesadaran akan posisi “aku” yang tertinggi, akan mampu mengarahkan dan menetapkan tindakan kita untuk terus menerus berusaha. Sehingga hasil apapun yang ingin dicapai akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempengaruhi orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan acungkan kekuatan anda pada orang lain, namun arahkan kekuatan itu pada diri anda sendiri melalui suatu cara yang akan membuat anda menjadi kuat, lebih positif, lebih berkemampuan, lebih efektif, dan lebih efisien. Selama anda bermetamorfosis dengan cara ini, kesuksesan pasti akan datang dengan sendirinya. Hanya ada satu cara mempengaruhi orang lain dengan cara yang sah yaitu melalui pengajaran berupa perbuatan, tanpa disertai niat untuk mempengaruhi. Anda hanya ingin memberi pengetahuan dan informasi, dan anda menanamkan pengaruh yang paling diperlukan tanpa menginginkan untuk melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda menginginkan yang baik, buatlah diri anda jadi lebih baik. Jika anda ingin meraih cita-cita, buatlah diri anda menjadi ideal. Anda ingin punya teman yang lebih baik, buatlah diri anda menjadi teman yang lebih baik. Jika anda ingin bekerjasama dengan orang yang mempunyai nilai, jadikan diri anda sendiri lebih bernilai. Kalau anda ingin berurusan dengan orang yang kompromis, buatlah diri anda menjadi lebih kompromis. Kalau anda ingin memasuki berbagai kondisi dan keadaan yang lebih menyenangkan, buatlah diri anda sendiri menjadi lebih menyenangkan. Jika anda ingin dicintai pasangan hidup anda, buatlah diri anda menjadi orang yang mencintainya lebih. Mungkin anda akan bertemu dengan orang-orang yang sulit dimengerti, namun tetap berikanlah diri anda yang terbaik, meski itupun tidak akan pernah memuaskan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, perkaranya adalah antara anda dengan Tuhan, bukan antara anda dengan mereka. Namun tidak ada alasan bagi diri atau kepribadian anda untuk menjadi mentah, tidak berbudi atau tidak berkembang. Dengan kesadaran akan ego atau “aku” dalam diri anda, teruslah membentuk diri anda menjadi yang terbaik. Jangan takut dikatakan egois, bila diri dan kepribadian anda dicintai banyak orang dan – Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 13 Maret 2008&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-7114630562328660995?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/7114630562328660995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=7114630562328660995&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/7114630562328660995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/7114630562328660995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2008/03/keutamaan-ego-dan-egois.html' title='Keutamaan Ego dan Egois'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/th_dollar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-7668531710100197432</id><published>2008-03-05T07:58:00.005+07:00</published><updated>2010-01-11T22:07:35.459+07:00</updated><title type='text'>JANGAN MUDAH MEMINTA MAAF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Work.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 124px; height: 158px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/Work.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep berpikir terbalik kali ini adalah tentang sebuah kata yang katanya "Ajaib".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “maaf” diartikan sebagai ampunan/pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan. Manifestasinya dalam hubungan bermasyarakat, bila seseorang melakukan apa yang dianggap sebagai kesalahan, maka dengan meminta maaf berarti telah diampuni/dibebaskan dari hukuman. Dengan kata lain bila bersalah, mintalah maaf, maka selesailah sudah masalah, tuntaslah persoalan, beres!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Apa betul demikian? &lt;span class="fullpost"&gt;Kalau benar seperti itu, tidak akan pernah kita lihat orang berkelahi di jalan cuma karena masalah sepele, misalnya kendaraan satu menyenggol kendaraan lain, sepeda motor melanggar pejalan kaki, atau pertengkaran lain. Padahal kita menyaksikan sendiri, dimana pihak yang salah telah meminta maaf. Lantas apa yang menyebabkan persoalan tersebut tidak kunjung selesai dengan baik, malah meruncing menjadi pertikaian? Ini dapat berarti bahwa di samping meminta maaf, ada hal lain yang lebih esensial. Hal mana perlu ditengok kembali, karena cukup jauh sudah kita ikut hanyut dengan pengertian bahwa segalanya dapat diselesaikan dengan “maaf”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta maaf erat kaitannya dengan memberi maaf, artinya bila ada seseorang yang meminta maaf, maka ada pihak di seberangnya yang memberi maaf. Memaafkan diartikan juga sebagai sikap dan tindakan mulia, tidak lagi menganggap salah bagi seseorang yang berbuat salah. Memaafkan adalah sifat yang diajarkan semua agama sebagai pengejawantahan dari kebaikan dan kebajikan manusia beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta maaf adalah hasil penalaran jernih atas kesadaran telah melakukan kekeliruan. Namun prakteknya, banyak orang meminta maaf bukan dilandasi kesadaran telah melakukan kesalahan, melainkan meminta maaf hanya demi menghindari hukuman. Mereka berkeyakinan dengan meminta maaf, maka orang wajib memaafkan (seperti diajarkan agama) yang berarti membebaskannya dari hukuman. Mereka lupa, bahwa memaafkan terbagi dalam dua kategori, yaitu memaafkan sebagai suatu sikap moral dan sebagai sikap hukum. Secara moral orang yang bersalah bisa dimaafkan, tetapi secara hukum, dia harus mempertanggung-jawabkan kesalahannya. Itu sebabnya proses hukum selalu diperlukan untuk memastikan seseorang bersalah atau tidaknya, karena menyangkut pertanggung-jawaban atas kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak memaafkan bukan berarti dendam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terjadi dilema bagi korban, dimana orang yang bersalah kepadanya berinisiatif memohon maaf dengan harapan si korban akan menanggapinya dengan semangat manusiawi yang sama pula. Di sini si korban khawatir bila memberikan respon positif, akan ditafsirkan secara sepihak sebagai akhir prosesnya mencari keadilan. Sebaliknya respon negatif yang diberikan akan dijadikan pintu masuk pelaku kriminal untuk mengekspos watak positifnya guna mencari dukungan sekaligus melecehkan korban dengan menyebut mereka sebagai manusia yang tidak berperi-kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk soal yang bobotnya lebih ringan, korban juga memiliki kekhawatiran bila maaf yang diberikan diartikan sebagai aborsi dari aneka kewajiban yang harus ditanggung peminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh mudahnya, saya pernah mengalami mobil yang dikendarai ditabrak sepeda motor dari belakang, padahal kondisi mobil saat itu sedang diam saat lampu merah. Kalau hanya menyenggol spion meski dengan sangat keras, atau menyerempet sisi mobil hingga meninggalkan jejak garis yang tidak dapat dihapus, biasanya saya langsung memaafkan dengan berpikir bahwa itu jauh lebih baik dibandingkan saya mengejar, menyumpah lalu bertengkar yang akhirnya menjadi semakin buruk. Namun kali ini motor yang menabrak tadi tidak bisa langsung jalan, jadi kami berurusan setelah meminggirkan kendaraan dan melihat penumpang tadi tidak terluka serius. Disaksikan kerumunan orang, penabrak mengemis-ngemis meminta maaf yang tentu saja langsung saya maafkan dengan syarat. Saya katakan bahwa maaf yang saya berikan tidak semerta-merta menghapuskan tanggung jawabnya memperbaiki kondisi mobil yang dirusaknya, dengan membebaninya biaya klaim administrasi asuransi kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tindakan saya tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai dendam, karena dendam diartikan sebagai keinginan keras untuk membalas tindakan atau perbuatan yang merugikan saya. Artinya kalau saya tidak begitu saja memaafkan penabrak, bukan berarti saya dendam, tetapi sebatas meletakkan persoalannya secara proporsional. Memaafkan secara moral tidak berarti menghapuskan pertanggung-jawaban hukum seseorang yang bersalah, ini bisa menimbulkan pemaafan semu. Memaafkan tapi tidak tulus, mengampuni tapi tidak ikhlas. Bukan memaafkan model ini yang diajarkan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratnya memberikan maaf kepada orang lain, lebih didominasi amarah dan benci karena merasa teraniaya. Jika persoalan memberikan maaf karena sebatas moral tanpa ada kesalahan atas pelanggaran hukum, akan lebih indah dan bermanfaat bila dengan mudah memaafkan bahkan sebelum orang yang bersalah tersebut meminta maaf, karena belum tentu orang yang kita anggap bersalah sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Lain halnya bila bersangkut-paut dengan pelanggaran hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan mudah meminta maaf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada kondisi yang membuat kita berpikir dan bertindak sekenanya tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain. Di jalan, dengan tanpa rasa bersalah kita dengan seenaknya memotong jalan kendaraan orang lain tanpa sinyal. Ketika bergaul, ucapan tanpa pikir panjang dapat menyakiti hati orang lain. Saat bekerja dengan separuh hati, berakibat hasil yang didapat tidak memuaskan, bahkan sering merugikan tempat kita bekerja. Keputusannya membuat kebijakan hanya menguntungkan diri sendiri, menindas kepentingan orang lain. Tak terhitung kesalahan yang telah diperbuat dengan sengaja, terlebih lagi kesalahan di luar kesadaran. Kemudian dengan mengandalkan kekuatan maaf, mereka cukup meminta maaf tanpa beban di hati atau jiwanya. Mereka meyakini bahwa setelah mulut berucap maaf dan dijawab dengan pemberian maaf, maka sudah terlepas pula tanggung-jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang diwarnai terang atau gelap, badai atau pelangi. Banyak badai yang terjadi karena kita sendiri yang membuatnya tanpa disadari. Cobalah sesekali menengok ke belakang, maka akan terlihat betapa panjang jejak kehancuran yang kita tinggalkan. Betapa banyak luka di hati orang-orang yang pernah kita sakiti. Itu semua tidak mudah terhapus hanya dengan kekuatan maaf, melainkan dengan tindakan. Tindakan yang menunjukkan bahwa maaf yang kita minta, lahir dari hati dan pikiran penuh kesadaran. Perbuatan yang sedikitnya memperbaiki masa kini dengan bercermin dari kesalahan yang telah lewat. Karena kita sadar bahwa kita tidak akan bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu. Dengan demikian, bukan puing reruntuhan yang kita perlihatkan, tapi keindahan pelangi setelah badai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah kodrat kita sbg manusia tak luput dari kesalahan, akan tetapi kita diberikan akal pikiran, hati dan perasaan untuk dapat berpikir dan merasa apa yang yang baik, apa yang benar sebagai persiapan dalam melangkah. Setidaknya bukan sengaja melakukan kesalahan dengan mau mengerti dan berempati terhadap orang lain. Sehingga kita tidak terjebak dalam perangkap maaf yang dapat memudahkan seseorang untuk berbuat salah. Berpikir mudah untuk meminta maaf, akan mencetak pribadi yang cenderung terus menerus melakukan banyak kesalahan. Agama tidak mengajarkan orang untuk sering meminta maaf, melainkan keutamaan untuk memberi maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda? Tak perlu meminta maaf bila tidak sepaham. Cukup tunjukkan kesalahan saya, kemudian bersiap menerima ucapan terima kasih dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Maret 2008&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-7668531710100197432?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/7668531710100197432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=7668531710100197432&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/7668531710100197432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/7668531710100197432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2008/03/jangan-mudah-meminta-maaf.html' title='JANGAN MUDAH MEMINTA MAAF'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Desain/th_Work.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-3246540494881762147</id><published>2007-07-30T10:16:00.004+07:00</published><updated>2010-01-11T22:35:46.179+07:00</updated><title type='text'>CUSTOMER IS NOT A KING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 110px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/images.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesalahan utama penyebab jatuhnya perusahaan yang pernah saya bangun lebih dari 3 tahun adalah sebuah idiom: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Customer is a King”&lt;/span&gt;. Idiom ini cukup melekat kuat di hati dan pikiran kami sebagai pelaku dunia usaha, bahkan menjadi nyawa dalam menjalankan bisnis. Langkah-langkah kebijakan yang kami buat berlandaskan slogan tersebut, membuat keputusan menjadi tidak realistis, lebih mengutamakan pelanggan, bahkan banyak strategi bisnis yang digelontorkan adalah hasil dari intimidasi pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keyakinan menganggap pelanggan sebagai seorang raja, membuat situasi menjadi tidak kondusif. Sebagai contoh, ada seorang karyawan yang demi kedekatannya dengan pelanggan, menceritakan keburukan-keburukan manajemen perusahaan atau kejelekan rekan kerjanya, padahal si pelanggan tersebut tidak menanyakannya. Hal ini dimungkinkan, sebab si karyawan beranggapan dengan bercerita lebih dalam, akan membawa kedekatan yang lebih intim (personal) pada pelanggannya. Bahkan tidak jarang mereka melanggar aturan atau prosedur kerja yang telah ditetapkan, dengan alasan, bahwa itu semua keinginan pelanggan. Mereka berpikir bahwa Pelanggan adalah Raja, jadi harus dituruti semua keinginannya, karena keinginan seorang raja adalah titah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Pelanggan adalah Raja? Benarkah Pelanggan tidak pernah salah? Karena seorang raja selalu benar. Mengapa tidak jujur saja, bahwa dalam bisnis kita mencari keuntungan, bukan sekedar mencari pelanggan sebanyak-banyaknya. Karena pelanggan yang banyak jika hanya merugikan perusahaan, untuk apa dipertahankan. Apalagi banyak dunia usaha yang menjadikan idiom ini hanya sebagai pemikat terhadap calon pelanggan. Jadi, mari berpikir terbalik..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan bukanlah Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang tepat dalam memperlakukan dan menganggap pelanggan, adalah dengan memperhatikan hal-hal nyata berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memposisikan Pelanggan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan yang dicanangkan perusahaan dengan menempatkan pelanggan sebagai raja, adalah sebuah pedagogi yang buruk, bahkan menjadikan citra pelanggan sebagai orang bodoh yang tak mengerti teknis. Pelanggan akan tinggi hati dan menuntut dunia usaha untuk melayaninya dengan bekerja benar (menurut kepentingan pelanggan), karena si Pelanggan merasa telah mengeluarkan uang untuk membayar. Seorang Customer Service atau karyawan lain yang berurusan dengan pelanggan macam ini, akan berpikir bahwa mereka berurusan dengan orang kaya yang tidak pintar. Karena setelah diberi penjelasan atas keluhannya, si Raja ini tidak mau tahu masalahnya, dia hanya mau beres. Padahal tiap permasalahan yang ada, bagi si karyawan atau dunia bisnis lainnya adalah sesuatu yang perlu dibereskan secepatnya, mereka sendiri tidak menginginkan ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari slogan ini sebenarnya adalah pola pikir yang berorientasi pada kepuasan konsumen/pelanggan. Sekilas jargon ini tampak cocok untuk sebuah bisnis dengan komoditas utamanya adalah produk, atau lebih spesifik lagi berjenis consumer product. Selain itu, beberapa karakter bisnis bidang jasa juga bisa nampak seperti ini; misalnya transportasi. Dimana hampir semua maskapai penerbangan berusaha sebaik-baiknya dalam memberikan pelayanan. Ada model membership seperti GFF (Garuda Friquent Flyer), Ada online reservation seperti Air Asia, pelayanan yang sangat ramah dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua bisnis jasa bisa menganggap konsumennya adalah raja, misalnya kesehatan atau bisnis pendidikan. Sebagai contoh adalah Rumah Sakit, dimana pasien adalah konsumen. Kepuasan konsumen disini adalah kesembuhan bagi dirinya. Lantas masihkah berlaku dengan mengatakan pasien adalah raja? Jika jawabannya: Ya, maka pihak rumah sakit wajib melakukan apa saja yang diinginkan pasien. Sedangkan dalam proses penyembuhan atau proses terapi, membutuhkan keterlibatan dari pasien itu sendiri. Pasien dapat berkompromi selama masih dalam anjuran pihak rumah sakit. Proses penyembuhan ini terkadang malah tidak menyenangkan, namun selama pasien dapat bekerjasama, niscaya kesembuhan bisa didapat. Begitupula dalam dunia pendidikan, kepuasan konsumen atau para siswa adalah mendapat ilmu atau keterampilan yang baik. Hal ini juga melibatkan siswa untuk memperoleh tujuan dengan didampingi guru/instruktur, karena perlu diingat, bahwa sebaik apapun sebuah sekolah atau lembaga pelatihan keterampilan, tidak ada yang bisa mencetak siswa menjadi sempurna, tanpa kemauan atau keterlibatan dari diri siswa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat disimpulkan bahwa menempatkan konsumen sebagai raja, akan membawa dampak buruk bagi kemajuan dunia usaha. Bukankah lebih baik, bila kita menempatkan konsumen sebagai mitra/rekan kerja yang saling berkorelasi. Rekan kerja harus mempunyai andil dalam mencapai tujuan bersama. Artinya bila konsumen mengharapkan kepuasan akan sebuah produk baik barang ataupun jasa, maka pelanggan tersebut juga ikut memenuhi kewajibannya untuk dapat memperoleh haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Win-win Transaction&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila konsumen/pelanggan/customer adalah mitra dari perusahaan, maka ia akan memberikan andil yang berguna bagi kemajuan usaha. Dari produk barang atau jasa yang ia pilih, ada timbal balik yang sesuai dengan nilai yang dibayarnya, sehingga kedua pihak mendapat keuntungan. Perusahaan memberikan produk terbaiknya, pelayanan yang diutamakan, juga ajakan kepada konsumen untuk menyumbang saran demi perbaikan yang berkelanjutan. Disini terjadi simbiosis yang saling menguntungkan kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda jika dunia usaha menganggap konsumennya raja, maka dengan alasan takut kehilangan pelanggan, kemudian melakukan semua permintaan pelanggan. Banyak kita jumpai pelanggan yang berpura-pura mengeluh tentang buruknya suatu produk, agar mereka mendapatkan potongan harga sebanyak-banyak, bahkan jika mungkin; gratis. Adapula pelanggan yang memberitahu tentang harga yang terlalu tinggi dibandingkan tempat lain, maka sebagai pihak penjual produk, kita harus dapat meyakinkan ke pelanggan akan kelebihan atau keistimewaan dari produk bila dibandingkan dengan tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Sadino, seorang entrepreneur sejati, pernah mencontohkan tentang karyawannya yang menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 400,-; hasilnya kangkung tersebut tidak laku terjual. Konsumen merasa kangkung yang dijual adalah kangkung mutu rendah, sehingga pasti tidak baik dan tidak enak untuk dikonsumsi. Ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda saat mengkonsumsi kangkung mahal, mereka makan sambil menghitung diam-diam kangkung mahal tersebut, dan ia nikmati. Ini adalah contoh bagus tentang trik marketing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bedakan Pelanggan dengan Kriminal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengusaha harus mampu membedakan potensi yang dimiliki masing-masing pelanggan, artinya tidak hanya memandang pelanggan yang notabene sebuah perusahaan besar, tapi perlu juga dilihat track recordnya. Beberapa perusahaan besar tidak memiliki potensi yang juga besar sebagai pelanggan. Mereka cenderung mengulur waktu pembayaran, dan tak jarang berbilang bulan bahkan tahunan. Pelanggan seperti ini, menurut FX Tjokro Hadi Soesilo (Pakar Sales &amp;amp; Manajemen) masuk dalam kategori pelaku kriminal. Meskipun besar, perusahaan seperti ini tidak selayaknya dipertahankan sebagai pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anda tak Dapat Memuaskan Semua Pihak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengikuti penuh apa yang disarankan pelanggan, tidak berarti Anda dapat memuaskan mereka. Selain kepuasan adalah hal nisbi, kepuasan seorang pelanggan bisa jadi ketidak-puasan pelanggan lainnya. Kebijakan yang dibuat perusahaan untuk memuaskan seseorang pelanggan, dapat menjadi kekecewaan pelanggan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh mudah; Jika Anda seorang pengusaha yang memproduksi sepatu misalnya. Kemudian Anda mengikuti saran pelanggan yang meminta harga lebih rendah dari yang ditetapkan sebelumnya, dan mereka menerima jika beberapa bahan baku diturunkan kwalitasnya, sebagai konsekuensi dalam biaya pembuatan. Boleh jadi pelanggan tersebut menerima dengan senang hati dan menjalankan usahanya lebih lancar. Tapi bagaimana dengan pelanggan yang lain? Pelanggan yang mengutamakan mutu, kwalitas dari sepatu yang Anda produksi. Mereka akan kecewa dan kemungkinannya mereka akan menarik diri sebagai pelanggan, untuk kemudian mencari produsen sepatu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebagai pengusaha, Anda perlu membuat kebijakan yang menguntungkan kedua pihak, pihak pertama adalah Anda sendiri dan pihak lain adalah pelanggan secara umum. Dalam arti segala kebijakan yang dibuat perlu diperhatikan kepuasan rata-rata pelanggan, dan tentunya tidak membuat rugi usaha yang Anda jalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan berkata “Ya” dan kapan bilang “Tidak, tapi…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang customer service yang membuat saya salut atas jawaban yang diberikan, ketika saya memintanya untuk memberikan kwalitas terbaik namun dengan potongan harga yang lumayan. Saat itu saya merasa telah cukup lama menjadi pelanggan tetapnya yang setia. Jawaban yang diberikan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Pak, Kami tidak bisa memberikan potongan harga untuk produk berkwalitas Kami, namun karena Bapak adalah pelanggan setia kami, maka permintaan Bapak akan saya sampaikan kepada pihak manajemen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, si karyawan jelas mengatakan “Tidak!”, namun ia pandai dengan jawabannya yang membuat saya tidak tersinggung dan memberikan sedikit harapan.  Perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja, benar-benar tahu memposisikan pelanggan. Mereka tidak menganggap Pelanggan adalah Raja (karena tidak terdapat slogan ini yang biasanya ditempel pada dinding ruang kerja mereka), tapi mereka tahu kapan berkata “Ya” dan kapan berkata “Tidak, tapi…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga di lain kesempatan saya memintanya untuk melakukan sesuatu yang di luar prosedur kerjanya. Karyawan tersebut dengan tegas mengatakan “Tidak” sambil menjelaskan alasannya, bahwa itu semua sudah ada dalam prosedur kerja yang telah kami sepakati, jadi tak bisa dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa Anda bayangkan jika karyawan tersebut selalu menjawab “Ya”, karena alasannya Pelanggan adalah Raja, maka Usaha Anda akan bangkrut dalam waktu singkat. Anda tidak dapat menyalahkan karyawan, karena ia bekerja sesuai dengan apa yang telah Anda doktrinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buat Segalanya Tertulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Anda telah menjalin kerjasama yang cukup lama dengan seorang pelanggan, sebaiknya segala transaksi atau kesepakatan yang dibuat, semuanya tertera di atas kertas, tertulis dengan tanda-tangan masing-masing pihak, bila perlu gunakan saksi. Ini berguna untuk mencegah hal-hal yan tidak diinginkan yan mungkin terjadi di waktu yang akan datang. Perjanjian yang tertulis juga dapat memotivasi pihak terkait, untuk melakukan segala kesepakatan dan tidak bermaksud melanggar, karena ada sanksi yang dikenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tidak melakukan ini, dengan hanya mengandalkan kepercayaan, niscaya akan menemui kesulitan yang kemungkinan besar terjadi di masa datang, belum lagi ditambah dengan sifat dasar manusia yang pelupa. Saat ini mungkin Anda ingat, tapi nanti. Urusan Anda bukan hanya memikirkan satu hal saja bukan? Pelanggan Andapun bukan hanya seorang, dan urusan Anda tidak melulu tentang bisnis, banyak hal lain yang juga Anda pikirkan, mulai dari keluarga, orangtua, saudara dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci Sukses Menjual Lebih Banyak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert W. Bly dalam bukunya “Fool-Proof Marketing” menjelaskan beberapa metode yang efektif dalam menjual produk atau jasa apapun, bahkan dalam kondisi ekonomi apapun. Buku ini menjelaskan meski kondisi ekonomi secara umum sedang buruk, keberhasilan untuk menjual lebih banyak produk ataupun jasa kepada pelanggan, sangat bergantung pada kemampuan Anda dalam membangun hubungan baik dengan mereka. Melalui perjanjian yang adil bagi kedua pihak, frekwensi berhubungan dan komunikasi langsung, akan mampu meningkatkan tujuan Anda. Berikut ini adalah beberapa idenya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Buat penawaran khusus bagi pelanggan aktif Anda dengan tenggat waktu yang pendek, sehingga mereka harus mengambil keputusan dalam waktu dekat. Sampaikan penawaran ini melalui media komunikasi yang cepat dan murah, misal: email, fax atau telpon.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Luangkan waktu untuk pelanggan inti, meski kondisi bisnis mereka saat ini sedang memburuk, tapi perhatian pribadi yang Anda berikan, misalnya mengundang mereka makan siang, makan malam atau mengajak mereka untuk melakukan hobynya, akan membuat mereka selalu ingat dan dihargai pada saat kondisi bisnisnya membaik kembali. Hubungi pula pelanggan setia Anda yang mungkin belakangan ini tidak Anda pedulikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selalu berhubungan dengan pelanggan, meski saat ini mereka tidak sedang berbisnis dengan Anda. Juga hubungi pelanggan inti yang masih aktif, tanyakan pada mereka, apakah puas dengan produk yang mereka beli, apa saran mereka untuk dapat Anda lakukan agar mereka lebih puas lagi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salah satu kesalahan utama dari pemasaran adalah selalu berusaha meluaskan usaha untuk memperoleh hasil lebih banyak. Lebih baik Anda fokus pada bagaimana dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan yang sudah ada.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memahami kondisi pelanggan Anda. Dalam perusahaan langganan Anda mungkin terjadi perubahan rencana hingga membatasi anggaran, disini Anda dapat membantu mereka mengatasi masalah tersebut dengan memberikan penawaran yang dapat menggunakan sisa anggaran yang ada atau yang tidak memerlukan pengesahan dari manajemen senior.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Jadi berikan perhatian khusus bagi kepuasan konsumen atau pelanggan Anda, bukan menganggap mereka sebagai raja. Bedakan konsep “Kepuasan Pelanggan” dengan konsep “Pelanggan adalah Raja”. Raja tidak bisa salah, pelanggan bisa salah, meski salah dan benar juga tidak absolut, tapi merajakan pelanggan berarti Anda harus memberikan pelayanan apapun, tanpa melihat benar atau salah. Ini sangat berbahaya dan tidak termasuk dalam konsep kepuasan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Berbahagia&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-3246540494881762147?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/3246540494881762147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=3246540494881762147&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/3246540494881762147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/3246540494881762147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/07/customer-is-not-king.html' title='CUSTOMER IS NOT A KING'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-6219201036867555250</id><published>2007-07-03T14:46:00.003+07:00</published><updated>2010-01-11T22:14:15.085+07:00</updated><title type='text'>SUKSES MEMBAWA KEBAHAGIAAN?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/laugh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 111px; height: 105px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/laugh.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau kita bisa sukses memperoleh kemenangan, itu baru kebahagiaan sesungguhnya”  atau “Yang tertawa belakangan, itulah yang tertawa bahagia” Betulkah ?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasti jawabannya akan berbeda jika kita berpikir terbalik&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada saat mengikuti lomba memancing, Saya diprotes seorang teman yang juga mengikuti lomba. Dia bilang bahwa Saya tidak serius dalam berlomba, lebih banyak bersenang-senang daripada berjuang untuk memperoleh kemenangan. Saya katakan bahwa Saya berbahagia dengan keadaan Saya, tapi bukan berarti tidak berusaha memperoleh kemenangan. Berbagai cara memancing yang telah Saya kuasai sudah dikerahkan seluruhnya, begitupula dalam hal meramu umpan. Kalau ternyata yang Saya dapat hanya 6 ekor ikan, sementara teman Saya tersebut memperoleh 16 ekor ikan, kenyataannya Saya bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita bisa sukses memperoleh kemenangan, itu baru kebahagiaan sesungguhnya” bantah teman tersebut. Karena untuk memperoleh kemenangan, seorang pemancing harus mendapat ikan yang paling besar atau terberat saat ditimbang. “Yang tertawa belakangan, itulah yang tertawa bahagia” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makna Kebahagiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benarkah yang dikatakan teman tersebut? Apakah kita harus sukses dahulu untuk mendapatkan kebahagiaan? Haruskah kita tertawa belakangan, dengan kata lain bahagia itu diperoleh belakangan? Disini rupanya perlu kita benahi beda antara “kesenangan” dan “kebahagiaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita dengar ungkapan, “Uang tak bisa membeli kebahagiaan”. Kenyataannya banyak orang kaya, hartanya berlimpah, namun tidak bahagia. Sementara ada orang yang tidak punya uang tapi bahagia. Banyak juga orang yang tidak punya uang juga tidak berbahagia. Karena harus diakui pula bahwa tidak punya uang juga bikin susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan adalah suatu pandangan hidup, suatu sikap mental, buah pikiran dari sifat-sifat optimisme, ketekunan, cinta dan pemenuhan. Kebahagiaan bukan berarti merasa senang terus menerus, atau mengalami perasaan yang menyenangkan sepanjang waktu, tapi kebahagiaan tidak berubah meski situasi atau kondisi berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus di atas, teman Saya tersebut memiliki tujuan jelas, mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah kemenangan, hingga bisa pulang dengan rasa puas, menang, dan bahagia. Sehingga ia terjebak dalam perangkap kebahagiaan. Ia keluarkan biaya yang tidak sedikit untuk peralatan memancingnya, biaya yang banyak untuk umpan ikan dan pikiran yang terus menerus terfokus pada kemenangan, ia mencoba membeli kebahagiaan. Hasilnya, sampai kami pulang saat usai lomba, ia tidak berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahagia Dahulu, Kemudian Sukses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang bahagia menyadari bahwa kesusksesan adalah bukan tujuan akhir, hingga selalu berpikiran positif, berpikir positif terhadap cara atau jalan yang mereka tempuh, dan positif terhadap tujuan. Mereka tidak memetakan dalam pikiran, bahwa untuk bahagia harus menang, harus sukses, namun menyiapkan mental untuk berbahagia. Mereka berbahagia bisa meluangkan waktunya yang sedikit, untuk melakukan kegemarannya. Mereka senang dapat bertemu dan berbincang dengan komunitasnya, saling bertukar pikiran dan pengalaman, pikirannya tidak terbebani hal-hal yang memberatkan. Sehingga meski mereka tidak memperoleh kemenangan, namun tetap dapat menikmati apa yang mereka jalani atau yang mereka perjuangkan. Sementara orang yang berpikir harus sukses baru bisa bahagia, kemudian tidak memperoleh apa yang dikejarnya, maka kita tahu apa yang diperolehnya: Kekalahan dan Ketidakbahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kesuksesan didapat bila kita dapat mencapai target? Artinya jika target tersebut terpenuhi, maka kita sukses. Jadi kalau target saya memancing adalah mendapatkan beberapa ekor ikan, tujuan saya adalah refreshing, melepaskan penat dari rutinitas yang membelenggu, bertemu dan berbincang dengan teman-teman untuk saling berbagi cerita, dan semua itu Saya dapatkan, artinya Saya sukses. Hal ini bukan berarti dikarenakan Saya hanya mempunyai target yang lebih rendah dibanding teman saya tersebut; semua pemancing dalam lomba, menginginkan keluar sebagai pemenang, tapi Saya tanamkan sejak awal, sebuah metal untuk berbahagia. Sehingga Saya tetap berbahagia kendati kalah, karena dalam pertandingan, ada menang dan ada kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perangkap Kebahagiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan uang, orang bisa saja membeli kesenangan, harta benda, keamanan, kekuasaan, bahkan statuspun bisa dibeli di negri ini. Tapi, mari kita perhatikan kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara utama yang dilakukan kaum konglomerat dalam memperoleh kekayaannya adalah dengan mengorbankan kesenangan juga kebebasannya. Mereka cenderung menghabiskan waktu untuk melipat gandakan hartanya untuk membeli kesenangan. Bila kesenangan itu terus menerus didapatkan, maka mereka akan terbiasa dalam kesenangan, sehingga kesenangan tersebut menjadi biasa dan akhirnya membosankan. Atau berapa banyak kaum selebritas kita (bukan selebritis, mengingat University jadi Universitas, Community jadi Komunitas, commodity jadi komoditas) yang terjebak dalam pesta minuman keras, narkoba dan seks bebas. Mereka coba membeli kesenangan, sebuah cara yang sia-sia yang justru menjerumuskan mereka ke arah berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kesenangan memiliki harta benda, layaknya menghilangkan dahaga dengan meminum air laut, maka berapapun harta benda yang kita miliki, kita akan merasa kurang. Kalau harta benda dijadikan ukuran kebahagiaan, maka nota bene orang-orang kaya adalah orang yang paling berbahagia. Prakteknya, kebahagiaan mereka hanya sedikit di atas rata-rata. Rasa takut dan kekhawatiran atas kehilangan harta benda yang mereka miliki, membuat mereka membeli rasa aman, namun selalu timbul ketakutan dan kekhawatiran baru, terus berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita perhatikan para penguasa di negri ini, bandingkan saat mereka belum memperoleh dan setelah memperoleh kekuasaannya! Begitu orang berkuasa, maka dia akan kehilangan kekuasaan atas hidupnya sendiri, karena ada begitu banyak orang yang harus dibuat senang dan wajib ditemui, ada banyak orang yang harus dilobi dan banyak orang harus dibohongi. Sedangkan status atau jabatan mereka bagai telur di ujung tanduk, mereka senantiasa resah akan ada yang menjegal untuk mengambil status yang dimiliki, dan status; setinggi apapun Anda mendaki, akan selalu ada orang di atas Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Orang Yang Berbahagia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berbahagia menyadari betul arti kesenangan, bahwa kesenangan adalah hal yang baik, tapi tanah tandus untuk kehidupan, bukan makanan. Orang-orang bahagia tahu, sebanyak apapun uang yang mereka miliki, mereka membatasi harapan-harapannya. Karena status kebendaan adalah kelemahan orang-orang yang takut melihat diri sendiri, hingga terus menghadapi rasa takut mereka yang sejati. Orang-orang yang berbahagia tidak hanya membangun kekuatan melulu, tetapi mereka juga mencari dan memperbaiki kelemahan dan kesalahan di masa lalu, mereka tidak mengubur kenangan buruk yang menimpanya, melainkan menjadikan kenangan buruk tersebut menjadi penyemangat hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berbahagia tidak mengejar uang, mereka mengejar hasrat atau keinginan mereka yang kuat. Mereka tidak mau disiksa oleh pikiran untuk mendapatkan lebih banyak uang. Status bagi orang-orang yang berbahagia adalah keyakinan terhadap Tuhannya, keluarga bahagia, teman-teman akrab dan kebanggaan atas pekerjaan atau apa yang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi semua tergantung tujuan hidup Anda!&lt;br /&gt;Anda ingin mengejar kesuksesan dahulu, baru kemudian merasa bahagia. Atau ingin menjadi orang-orang yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Berbahagia…&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Juni 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-6219201036867555250?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/6219201036867555250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=6219201036867555250&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/6219201036867555250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/6219201036867555250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/07/sukses-membawa-kebahagiaan.html' title='SUKSES MEMBAWA KEBAHAGIAAN?'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_laugh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-6826312461032856083</id><published>2007-06-27T11:29:00.004+07:00</published><updated>2010-01-11T22:34:49.833+07:00</updated><title type='text'>JANGAN JADI DIRI SENDIRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/jazz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 209px; height: 118px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/jazz.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya yakin bahwa Anda sering mendengar nasihat: “Jadilah dirimu sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah bagaimana Anda menyikapinya, karena buat saya, itu berarti hidup apa adanya. Menjadi diri sendiri sesuai dengan keadaan, kondisi, sarana, mental dan spiritual seadanya. Dengan kata lain hidup tidak perlu macam-macam, jangan neko-neko. Jadilah orang biasa saja seperti apa adanya kamu sekarang. Bukankah seperti itu pemahamannya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau mungkin juga yang dimaksud pesan tersebut adalah: Menjadi diri sendiri, sesuai dengan karakter serta jiwa yang sudah ada pada diri masing-masing individu. Namun jika memang seperti itu, siapa yang dapat menunjukkan tentang karakter Anda? Siapa yang dapat memberitahu jalan hidup Anda? Siapa yang dapat memperlihatkan masa depan Anda kelak? Bagaimana awal langkah untuk bisa menjadi diri sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun sudah saya jalani untuk menjadi diri sendiri, namun apa yang saya peroleh hanya keraguan, kebimbangan; akan jadi apa saya 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang? Mungkin Anda juga termasuk dalam golongan orang-orang yang “belum menjadi diri sendiri”. Kita terbiasa mengerjakan apa yang biasa kita kerjakan, maka kita juga mendapatkan apa yang biasa kita dapatkan. Untuk itu, Lakukan hal yang luar biasa (seperti judul buku karangan Eni Kusuma: “Anda Luar Biasa”), maka Anda akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena manusia hidup, bukan sebagaimana adanya, melainkan bagaimana seharusnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari kita tengok konsep berpikir terbalik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan jadi diri sendiri, Jadilah Peniru!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi dasar manusia dalam belajar adalah “sifat peniru”. Tuhan memberikan cahaya melalui matahari, manusia menirunya dengan membuat lampu. Tuhan buat hutan, manusia membuat taman. Tuhan tegakkan gunung-gunung sebagai tempat tinggal flora dan fauna, manusia ciptakan gedung-gedung. Tuhan ciptakan lapisan luar dari buah-buahan seperti: pisang, semangka, jeruk, kelapa; sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, maka manusia ciptakan plastik. Tuhan ciptakan burung, manusia ciptakan pesawat. Sistim sonar pada lumba-lumba ditiru manusia. Pelukis meniru dari apa yang dilihatnya, dan masih banyak lagi contoh yang membuktikan bahwa kita belajar dengan meniru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru bukanlah merampok. Jika Anda mengambil tulisan orang lain dan mengakuinya sebagai buah karya Anda (Plagiat), itu merampok; bukan meniru! Jika Anda mengambil ide orang lain, lalu membuatnya sama persis, itu mencuri! Anda bisa saja mengambil mutira dari kerang, lalu menunjukkan pada orang-orang yang tinggal di gunung, dimana mereka tidak pernah tahu tentang laut, kemudian Anda menyatakan bahwa mutiara itu Anda buat sendiri. Mungkin mereka percaya. Tapi sampai kapan? Anda tidak bisa memproduksi mobil memakai nama Anda, dengan meniru desain dari Toyota misalnya, karena orang akan tahu; produk Anda tidak akan laku dan itu menjiplak, bukan meniru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru adalah kegiatan mencontoh dari apa yang kita lihat, rasakan dan pelajari, untuk kemudian diperbaharui. Seiring waktu proses belajar yang Anda jalani, maka akan timbul dan lambat laun tercetak jelas warna dari karakter Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh: Sebagai penulis pemula, Anda menulis dengan meniru gaya penulisan, teknik penulisan, format penulisan, bahkan mungkin di tahap awal Anda juga meniru pola pikir penulis idola Anda; bukan menjiplak atau merampok! Sejalan dengan proses belajar menulis tersebut, Anda akan menemukan jiwa yang cocok dalam tehnik menulis, akan Anda temukan nyawa tulisan Anda, dan akan Anda sadari bahwa ternyata Anda beda! Anda luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meniru “Sang Idola”, menggenggam kesuksesan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak orang yang masih belum tahu, kapan cita-citanya terwujud. Banyak yang belum bisa dan bingung mengenai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meraih tujuannya; lebih parah lagi masih ada orang yang belum tahu mau jadi apa, apa cita-citanya, gelap dengan tujuan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal paling mudah untuk menentukan cita-cita atau tujuan hidupn di masa depan, adalah kesukaan atau kegemaran (hoby). Jika Anda menyukai berdagang, jadilah pedagang yang sukses. Jika kegemaran Anda berkutat dengan komputer, jadilah ahli di bidangnya. Jika Anda  merasa damai dengan melukis, mendesain; jadilah Pelukis atau desainer. Dan jika Anda bangga menulis karena yakin tulisan Anda akan membantu banyak orang, ide Anda dapat dimanifestasikan orang lain meski di suatu saat, dan Anda masih tetap “hidup” meski telah tiada, maka jadilah penulis. Jadilah apa saja yang sesuai dengan kegemaran Anda. Karena orang yang melakukan kegemarannya sekaligus sebagai profesi pekerjaannya, dia akan jauh lebih berhasil dibandingkan orang yang melakukan aktifitas kerja karena terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya Anda cukup mencari idola, siapa yang Anda kagumi. Kemudian pelajari hal-hal yang membuat idola Anda tersebut bisa sukses, lalu tirulah! Tiru saja apa-apa yang menjadi langkah keberhasilannya, tiru semangatnya, tiru mental berpikirnya. Jangan buang percuma energi mental Anda  untuk hal yang tidak ada hubungannya dengan tujuan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan menemukan bahwa apa-apa yang Anda tiru dan berhasil untuk sang idola, ternyata dapat lebih berhasil lagi dengan sentuhan pribadi. Karena kita semua tahu, bahwa apa yang baik dan berhasil dilakukan orang lain, belum tentu sukses untuk diri Anda. Di sini Anda akan temukan kekurangan ataupun kelebihan dari formula idola Anda. Anda cukup menambahkan, mengurangi atau mengganti idola dengan idola lain yang sama bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan lain dari meniru sang idola adalah waktu. Waktu yang ditempuh oleh idola Anda untuk sukses, bisa jadi sebagai waktu yang panjang, kesabaran, juga jerih payah yang berkelanjutan, hingga ia dapat menemukan cara yang tepat atau tehnik yang langsung ke sasaran. Sedangkan dengan meniru, Anda sudah tahu ilmunya, dapat membaca langkahnya dan cukup menambahkan atau mengurangi dari apa-apa yang tinggal kita ikuti, kita tiru. Selanjutnya, perkembangan karakter yang menunjukkan bahwa Anda beda, Anda luar biasa; tidak menjadi pikiran maupun halangan, karena itu terjadi dengan sendirinya selama proses Anda belajar dengan meniru. Bahkan mungkin tanpa sadar Anda sudah menjadi diri sendiri yang berbeda dengan sang idola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana? Cukupkah menjadi diri sendiri? Itu artinya Anda terima keadaan sekarang, terima kenyataan bahwa setelah lahir, besar, sekolah, kerja, menikah kemudian punya anak dan.. mati! Atau jangan menjadi diri sendiri? Dengan meniru idola, mengikuti langkah-langkahnya dengan menjadikan idola Anda sebagai guru sekaligus rival. Anda menjadi seorang pembelajar, dengan menjadikan orang yang Anda kagumi, sebagai kelinci percobaan Anda yang telah berhasil menjalani eksperimen, atau percobaan-percobaan dalam mencari tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu takut dengan pikiran bahwa Anda akan menjadi sama dengan idola Anda. Karena Tuhan menciptakan masing-masing individu berbeda satu dengan lainnya, bahkan jika Anda ternyata saudara kembar dari idola Anda, maka Anda tetap Individu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah peniru untuk menjadi diri sendiri, bukan langsung menjadi diri sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Bahagia&lt;br /&gt;Jakarta, 27 Juni 2007&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-6826312461032856083?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/6826312461032856083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=6826312461032856083&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/6826312461032856083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/6826312461032856083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/06/jangan-jadi-diri-sendiri.html' title='JANGAN JADI DIRI SENDIRI'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_jazz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-1900537523921814359</id><published>2007-06-22T14:15:00.003+07:00</published><updated>2010-01-11T22:41:29.544+07:00</updated><title type='text'>Hidup Bukanlah Sandiwara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/god-bless1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 168px; height: 253px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/god-bless1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia ini panggung sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ceritanya mudah berubah.&lt;br /&gt;Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap insan, dapat satu peranan.&lt;br /&gt;Yang harus kita mainkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lagu lawas yang populer dari God Bless, diputar sebuah stasiun radio yang biasa menemani saya saat pagi berangkat atau pulang kantor sore hari.&lt;span class="fullpost"&gt; Namun pagi ini syair indah dari lagu tersebut tidak mampu meresap ke relung kalbu. Entah apa sebabnya, padahal sejak kecil ucapan bijak yang mengatakan “Hidup ini Hanya Sandiwara” sudah sering saya dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata “Sandiwara” ini diterjemahkan secara terpisah, okelah! Karena “Sandi” berarti rahasia atau kode, sementara “Wara” diartikan sebagai berita atau pengumuman (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga). Jadi kehidupan seorang manusia adalah berita yang tersamar atau pesan bagi manusia lain. Dari sini kita bisa beranggapan bahwa hidup manusia lain dapat kita amati, untuk dijadikan pelajaran bagi hidup kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak demikian bila kata “Sandiwara” diartikan secara kesatuan, arti harfiahnya menjadi “Pertunjukan lakon, drama atau cerita yang dimainkan oleh orang”. Jika hidup ini hanyalah sandiwara, maka Saya, Anda dan semua mahluk hidup adalah pemain sandiwara. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita semua adalah pemain sandiwara dan dunia adalah panggungnya, lantas siapa penontonnya? Tuhan? Bukankah Tuhan yang menciptakan dunia berarti juga bahwa Dia-lah sang “Sutradara”? Jadi, siapa penontonnya? Siapa penonton yang apresiasinya bisa kecewa, atau bisa memberikan penghargaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Naskah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian paling  mendasar dalam sebuah sandiwara adalah naskah. Naskah dibuat sebelum sandiwara itu sendiri ada. Artinya, bila Anda seorang pemain sandiwara, maka Anda harus memahami dan menghafal naskah agar kualitas sandiwara itu tinggi. Meski sutradara mengijinkan Anda untuk berimprovisasi, namun tidak akan melenceng dari naskah yang ada. Ketidakpahaman Anda terhadap naskah akan membuat space panggung lebih besar dari space pikiran, kalau dipaksakan main, Anda akan mudah terkena demam panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Anda wajib memahami peta geografi panggung dan demografi penonton. Hal ini berguna dalam menentukan seberapa leluasa Anda bergerak mencurahkan kemampuan acting, menarik perhatian penonton, membuat mereka hanyut dalam alur cerita yang kita perankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana mungkin, hidup atau kehidupan ini sebuah sandiwara? Jika Anda tidak tahu, apalagi paham dengan naskah yang harus dimainkan. Terlebih pula, Anda tidak tahu siapa penontonnya. Jika Anda meyakini hidup ini sebagai sandiwara dan Tuhan adalah “Sutradara”, tak perlulah Anda berbuat banyak, cukup jalani saja hidup Anda yang sekarang. Anda seorang karyawan, cukup kerjakan tugas rutin sehari-hari, jangan berpikir untuk melakukan aktivitas lain, karena akan melenceng dari naskah, dan jalan hidup Anda sudah ditentukan sesuai naskah; Takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;Sandiwara adalah Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah sandiwara Anda sendiri! Jadikan sandiwara yang Anda buat adalah kehidupan Anda, kebahagiaan Anda, kesuksesan Anda. Sandiwara dapat mewakili gambaran yang terjadi di semua wilayah kehidupan kita. Jadikan diri Anda sebagai sutradara sekaligus pemain, jadikan dunia ini sebagai panggung, jadikan sebagian orang sebagai pemain dan sebagian lagi sebagai penonton. Maka buatlah naskah Anda sendiri! Tentukan darimana Anda memulai! Kapan memulai! Kemana harus melangkah dan tentukan tujuan dari cerita yang Anda buat. Jadikan aktivitas yang Anda lakukan sebagi jalan untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kita tak akan pernah tahu dimana dan kapan kita dijatuhkan bahkan pasti dihentikan, namun naskah hidup yang kita buat dan jalani, akan menjadi ukuran penilaian manusia. Dunia tidak peduli dengan apa yang kita ketahui, tetapi lebih dari Apa yang kita lakukan, puncaknya dari kehidupan adalah tindakan bukan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, susunlah naskah hidup Anda dan jalanilah! Jangan peduli berapa kali Anda dijatuhkan! Bangkit! Lihat apa yang membuat Anda jatuh! Rubah sedikit naskah Anda, Jalani lagi! Ingatlah bahwa yang menentukan nasib kita, bukanlah apa yang menimpa kita, melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menyusun naskah yang akan dibuat, ada baiknya kita bertumpu pada lima kriteria dari model berpikir strategis, yaitu: organisasi, observasi, sudut pandang, sumber kekuatan dan posisi ideal (dalam terjemahan bebas: “Strategic Management Thinking”: Women business center, Dallas TX 1997). Bila diterapkan dalam skala kecil (individu), maka bisa diartikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan pertimbangan, pengetahuan dan pemahaman tentang siapa  orang-orang selingkungan yang akan terlibat mendukung agar menjadi tontonan sandiwara yang memuaskan diri kita dan menarik buat penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Observasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan observasi atau pengamatan terhadap persoalan, agar kita dapat memahami dan fokus menyusun skala prioritas, tidak terjebak dalam labirin permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sudut Pandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah hidup sebaiknya disusun dari beragam sudut pandang, hal ini diperlukan untuk mengidentifikasi hasil yang diinginkan, mengukur tingkat ketepatan antara ide dan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sumber Kekuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah hidup yang kita rumuskan sebaiknya jangan sekenanya atau membabi-buta, namun dibuat dengan perhitungan matang atas faktor kekuatan pemicu, pendorong, dan penopang.  Naskah hidup harus mampu menjelaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Visi (tujuan jangka panjang)&lt;br /&gt;• Definisi Tujuan (manajemen keinginan)&lt;br /&gt;• Prinsip hidup (keyakinan totalitas dan tidak menerima kompromi)&lt;br /&gt;• Rumusan pelaksanaan sesuai dengan ketersediaan saat ini dan berdasarkan kemampuan nyata menurut apa yang telah kita alami dan telah kita capai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahnya, jangan sampai berperang tanpa mengetahui kekuatan diri sendiri, kekuatan musuh, kondisi lapangan, cuaca dan factor pendukung lain. Karena hidup ini bukan main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Posisi Ideal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah hidup perlu disusun tidak semata-mata berdasarkan “apa adanya” tetapi perlu melibatkan khayalan atau harapan tentang ‘‘apa yang semestinya” terjadi.  Seperti kata orang, tidak selamanya orang gagal itu karena cita-cita hidup yang lebih besar dari kemampuan tetapi seringkali cita-cita dibuat berstandar rendah . Jadi, posisi ideal bukanlah tujuan akhir, namun merupakan proses dimana akhir adalah awal dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua orang memiliki jumlah penonton yang besar, namun pada prinsipnya kitalah yang membuat naskah sandiwara untuk hidup yang kita jalani. Demikian pola berpikir terbalik kali ini. Semoga dapat menjadi tuntunan untuk membuat naskah sandiwara dari hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Juni 2007&lt;br /&gt;Salam Bahagia&lt;br /&gt;Mugi Subagyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-1900537523921814359?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/1900537523921814359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=1900537523921814359&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/1900537523921814359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/1900537523921814359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/06/hidup-bukanlah-sandiwara.html' title='Hidup Bukanlah Sandiwara'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_god-bless1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-5689975796124553017</id><published>2007-06-22T14:10:00.002+07:00</published><updated>2010-01-11T22:42:33.367+07:00</updated><title type='text'>Kita Butuh Musuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/pki.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 99px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/pki.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sering kita dengar, ajaran yang mengatakan agar menjauhi permusuhan, karena hanya akan mendatangkan kerugian bahkan malapetaka, sehingga orang yang tidak memiliki musuh akan merasa tenang tentram hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada orang yang memiliki kebesaran jiwa dan kematangan berfikirnya telah mencapai level yang tinggi, dimana dia telah bisa meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi, 100% ajaran ini bisa kita terima.&lt;span class="fullpost"&gt; Namun bagi kita yang baru saja bertolak menuju ke arah tersebut lewat jalan pembelajaran, maka ajaran ini menempatkan kita pada posisi yang memaksa kita menjadi malas berfikir dan bertindak, lantaran tidak adanya motivasi yang tersemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berpikir Terbalik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Sejarah atau PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang didoktrinkan kepada siswa-siswi, mulai dari Sekolah Dasar, hingga ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi tentang PKI, yang terkenal dengan G30S-PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia)? Karena tindakan tersebut, partai ini masuk dalam partai pengkhianat bangsa, partai yang berisi orang-orang kejam dan tidak mengenal Tuhan. Status pengkhianat melekat kuat di seluruh buku yang bertutur sejarah perjuangan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah sama jika saat itu PKI dengan G30Snya berhasil menguasai pemerintahan dan memegang tampuk pimpinan? Tentu buku2 sejarah akan berkata lain. Sejarah akan berkata “PKI adalah partai terbaik, penyelamat bangsa, pahlawan Negara, bla.. bla.. blaa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai lain yang ketika itu memiliki ajaran bertentangan dengan PKI sudah melihat jelas, bahwa partai beraliran komunis ini adalah sebuah ancaman, musuh yang perlu dibasmi, sehingga perlu dicarikan penyelesaian sebagai jalan keluar. Maka peristiwa G30S tersebut lantas dijadikan pemicu pemberantasan PKI hingga ke akarnya.&lt;br /&gt;Kita patut bersyukur kepada Tuhan Y.M.E, karena partai ini berhasil dihapuskan oleh partai lain yang saat itu masih berjuang demi bangsa dan Negara, meski caranya  tidak berbeda dengan partai yang “dihapuskan” (karena terjadi pembenaran dalam buku-buku sejarah bangsa Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini membuktikan bahwa memiliki musuh tidaklah buruk. Memiliki musuh berarti ada lawan yang harus dikalahkan, ada rival yang mesti ditaklukkan. Memiliki musuh akan membuat kita berfikir mengenai teknik ataupun strategi apa yang akan dijalankan, kapan menyerang dan kapan bertahan. Memiliki musuh akan timbul harapan dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Bukankah kalau mau hidup aman, kita harus siap untuk berperang? Sehingga tidak ada Negara lain yang berani mengambil pulau-pulau di wilayah Republik Indonesia, tidak ada yang berani mendikte tindakan yang diambil oleh Negara kita, menginjak-injak kehormatan bangsa. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau Negara ini siap, siap berperang untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Negara. Kesiapan inipun hanya mungkin terjadi bila Negara ini memiliki musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki musuh, tidak harus musuh nyata (kasat mata), dimana berperang dengannya akan ada tindakan penghilangan nyawa manusia. Sudah jadi kodrat manusia yang berkeTuhanan memiliki musuh, baik nyata atau maya. Setan melalui godaannya akan senantiasa menjadi musuh utama. Diri sendiri dengan hawa nafsu, amarah dan keinginan bertindak salah juga musuh yang juga harus ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa enak menyaksikan pertandingan sepakbola, jika kedua kesebelasan tersebut berteman, sehingga tidak ada keinginan untuk menciptakan sebuah gol yang dapat menaklukkan lawannya. Apa yang kita banggakan dari sebuah prestasi di sekolah misalnya, jika muridnya Cuma 1 orang. Bagaimana bisa menjadi yang tercepat, terbaik, terindah, jika tidak ada memiliki musuh sebagai pembanding?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mari kita ciptakan musuh kita (bukan cari musuh), Jika Anda pemeluk agama yang taat, setanlah musuh Anda. Jika hawa nafsu dan keburukan hati selalu membisik di telinga anda, maka “diri anda”lah musuh itu. Jika Anda seorang Penulis Pemula atau baru saja akan memulai menjadi Penulis, maka Penulis Profesional/Kawakan adalah musuh Anda. Cari tahu kekuatan musuh Anda dan darimana Dia memperolehnya, pelajari hingga Anda memiliki kekuatan yang sama, lalu cari tahu kelemahan musuh Anda, kemudian jadikan kelemahan tersebut sebagai kekuatan Anda. Maka Anda akan benar-benar merasakan nikmatnya dapat mengalahkan musuh Anda. Keberhasilan hanya indah dirasakan bila kita menjalani prosesnya dari awal, bukan sebuah pemberian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-5689975796124553017?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/5689975796124553017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=5689975796124553017&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/5689975796124553017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/5689975796124553017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/06/kita-butuh-musuh.html' title='Kita Butuh Musuh'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_pki.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-1467841096285625537</id><published>2007-06-22T14:03:00.005+07:00</published><updated>2010-01-11T22:43:12.485+07:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/ultah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 114px; height: 125px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/ultah.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ingat syair ini..?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini…&lt;br /&gt;hari yang kautunggu..&lt;br /&gt;bertambah satu tahun… usiamu…&lt;br /&gt;bahagialah kamu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sebagian besar dari kita seragam pola pikirnya dengan lagu yang dipopulerkan oleh kelompok musik “Jamrud” tersebut. Setiap kita berulang tahun, berarti usia kita bertambah, sehingga membuat kita lebih dewasa, lebih maju dalam berpikir dan bertindak, lebih bijaksana, dan lebih banyak lagi harapan yang tidak jelas juntrungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah usia kita bertambah 1 tahun saat berulang tahun?&lt;span class="fullpost"&gt; Siapa yang menjamin dengan bertambah umur, kita menjadi lebih dewasa? Lebih maju dalam berpikir atau bertindak? Lebih bijaksana? Kalau benar, bagaimana jalan ceritanya?&lt;br /&gt;Bila Anda yang merasa bertambah dewasa, bijak, maju dalam berpikir, setelah meniup mati lilin lampu berbentuk angka yang menunjukkan umur, maka maaf saja bila saya meragukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berpikir Terbalik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap berulang tahun, sesungguhnya makin berkuranglah umur hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berapa umur kita yang tersisa? Kita buat perumpamaan, misalkan saat ini kita berulang tahun yang ke-38, batas umur tertinggi kita 65 (silahkan naikkan batas ini, tapi perlu diingat batas usia produktif manusia), maka usia tersisa tinggal 17 tahun. Sudah berhasil/sukseskah kita di usia sekarang? Kalau sudah, lalu apa? Berbuat apa lagi? Perlukah menembus ambang batas kesuksesan? Atau malah terperangkap? Bagaimana bila saat ini belum ada kesuksesan yang telah diraih? Berapa tahun lagi persiapan, usaha dan kerja keras untuk sukses? Kalau Anda seorang karyawan, mungkinkah mengalahkan pemikiran dan fisik karyawan lain yang jauh lebih muda dan energik? Kalaupun melamar pekerjaan ke perusahaan lain, perusahaan mana yang masih bersedia menerima karyawan dengan umur yang masuk dalam kategori “tua”? Bagaimana membuat dan atau meningkatkan “skill” yang dapat dijadikan penghasilan, baik sebagai sumber atau sampingan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui bahwa tinggal sedikit umur kita yang tersisa, maka kita akan berpikir keras guna meningkatkan kualitas hidup, yang otomatis akan membawa kita pada kedewasaan. Sama halnya dengan ucapan seorang motivator tentang sebuah gelas berisi air setengahnya, dikatakan bahwa pemikir positif akan bilang bahwa “Masih ada air setengah gelas”, sementara si pemikir negative bilang “Air di gelas tinggal setengah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi pemikiran seperti ini cenderung membuat orang berpikir dan bertindak tenang (atau santai?) karena “aman” dengan adanya setengah air dalam gelas. Jika berpikir terbalik, maka kita sudah sibuk memutar otak, untuk mengisi kembali gelas tersebut dengan air. Berpikir terbalik akan membuat otak bekerja lebih banyak dengan adanya factor yang menjadi pendorong. Semakin sering otak berpikir, bukan semakin tumpul, justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih banyak orang yang sukses, menjalani prosesnya dari bawah, dari kebertiadaan, bukan dari rasa tenang, aman dan jaminan hidup enak yang diwariskan orangtuanya. Orang-orang sukses tahu bahwa jalan menuju keberhasilan, bukanlah jalan terang yang lurus mulus. Melainkan jalan yang mesti dilalui setapak demi setapak, sambil terus menyusun langkah dan mengawasi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses menjadi orang yang sukses tidak dengan sendirinya terjadi bersamaan dengan bertambahnya usia, namun sebuah jalan yang sering dipenuhi penderitaan, penderitaan yang harus kita kalahkan dengan kesabaran. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan, kesabaran tidak dihadiahkan Tuhan setiap kita berulang tahun, tapi harus dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kita menyadari bahwa cuma tersisa sedikit usia, maka kita dapat bercermin diri tentang apa-apa yang sudah diperoleh, dan apa yang perlu dibuat untuk menghasilkan karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Berkarya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-1467841096285625537?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/1467841096285625537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=1467841096285625537&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/1467841096285625537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/1467841096285625537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/06/ulang-tahun.html' title='Ulang Tahun'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_ultah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-38414094.post-5832389819366450706</id><published>2007-06-22T13:48:00.005+07:00</published><updated>2009-11-27T22:59:28.986+07:00</updated><title type='text'>SPIDERMAN DAN JALAN HIDUPKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/dancingspiderman.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 75px;" src="http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/dancingspiderman.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jauh sebelum “Spiderman” tayang di bioskop-bioskop 21, sudah ramai dibicarakan tentang tokoh pahlawan super berkemampuan laba-laba super pula; mungkin akibat gencarnya iklan yang dipromosikan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menyaksikan film ini, tanpa sadar alam bawah sadar kita dibawa hanyut untuk ikut merasakan kepahlawanan sang “Jagoan”, hingga berfantasi; dalam khayal, kitalah yang menjadi jagoannya. Kita didoktrin untuk menjadi orang yang kuat,  baik hati, berkemampuan super, pembela kebenaran. Benarkah kita perlu dan dapat mengimplementasikan dalam dunia nyata, atau setidaknya kekaguman kita pada tokoh-tokoh pahlawan super dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita cari tahu rahasia yang membuat kisah film menjadi menarik, seru, dahsyat, hingga mampu membuat penonton hanyut dalam khayal masing-masing. Apakah alur cerita? Kebesaran sang “Jagoan”? pengorbanan diri seorang Superhero atas kehidupannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan! Dengan berpikir terbalik, maka kita tahu bahwa hal yang membuat itu semua menjadi dramatis, seru, menggetarkan, adalah adanya “Musuh”, musuh yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan! Jika seorang Spiderman, Superman, Batman atau siapapun yang memiliki kemampuan tinggi, memiliki musuh hanya seorang Preman Jalanan, atau Penodong, atau Pencopet? Saya yakin Anda akan kecewa keluar dari gedung bioskop, kecewa dengan ketidakberimbangan, kecewa karena terlalu mudah, tidak ada yang patut dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuhlah yang membuat cerita menjadi dahsyat, sedangkan hal lain menjadi bumbu pelengkap saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nuansa antara Spiderman &amp;amp; Musuhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigitan kecil pada punggung tangan Peter Parker (diperankan Toby Mc guire) oleh laba-laba super hasil pengawinan silang, merubah DNA dari genetika pemuda yang “Cupu” (Culun Punya), menjadi seorang pemuda berbadan tegap, gempal, kuat serta memiliki indra tambahan berupa insting yang dapat mendeteksi peristiwa sesaat sebelum terjadi. Kemudian dari bawah telapak tangan, ia dapat mengeluarkan serat berpautan yang dapat digunakannya berayun, bahkan untuk senjata. Mampu merayap di dinding dan melompat jauh. Intinya, Peter Parker sang Spiderman, memperoleh semua itu dengan instan, hanya dalam semalam, gigitan hewan kecil tersebut, memberikan ia kemampuan super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, musuh-musuh Spiderman, seperti Norman Osborn sebagai Green Goblin (Spiderman), Dr. Oct (Spiderman 2), Harry Osborn (Silver Goblin), adalah orang-orang yang awalnya memilik itikad baik, bermaksud menciptakan penemuan yang dapat digunakan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka memilik ambisi, ketekunan dan semangat dalam merengkuh apa yang dicita-citakan. Mulai dari menekuni ilmu pengetahuan hingga menguasainya, pencarian dukungan dana, eksperimen, bahkan menyediakan dirinya sebagai “kelinci percobaan” dari eksperimen yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak mencari orang lain, karena khawatir dapat membunuh orang lain bila percobaan tersebut gagal aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat baik, semangat dan ambisi orang-orang ini kemudian berubah menjadi bencana, akibat kecelakaan yang terjadi. Sebuah kecelakaan yang sebenarnya sudah mereka perhitungkan sebelumnya. Sebuah kemungkinan yang sangat kecil untuk gagal, namun justru terjadi dan fatal; sebuah spekulasi yang berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sadar, meski telah melakukan penelitian menahun, yang juga berarti kerja bertahun-tahun, masih ada kekuatan lain di luar diri sendiri, kekuatan yang sangat besar, kekuatan yang memberi penentuan atas niat dan kerja manusia, kekuatan yang mencipta dunia. Seperti diucapkan oleh Dr. Oct saat dikalahkan Spiderman. Ketika berhadapan, dia baru mengetahui bahwa Spiderman adalah Peter Parker, salah satu siswanya. Sambil menahan sakit, matanya memancarkan kekaguman, kemudian berucap “&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Peter Parker, Brilliant but lazy (&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Peter Parker, si  jenius yang malas)” tatapnya, “Bentuk ciptaanmu sempurna”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa saja memilih menjadi seorang Spiderman. Tidak perlu niatan tertentu, rencana tersusun, atau ambisi untuk menjadi sukses, apalagi kemampuan mencipta. Kita tinggal mengalir saja apa adanya, sambil menunggu mukjizat, menunggu ada orang yang memberi pekerjaan, menunggu sukses datang sendiri, menunggu Tuhan memberikan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau menjadi seperti musuh-musuh Spiderman. Ini berarti Kita perlu menetapkan tujuan, mengatur rencana, melakukan, tekun dan berani mengambil keputusan. Satu hal yang tidak disadari oleh para penjahat ini adalah “Jiwa”. Efek samping dari ambisi yang berlebihan telah membuat jiwa mereka rusak, bahkan terbelah. Sehingga jiwa mereka dapat dikalahkan oleh nafsu badani, nafsu untuk melahap kekuatan, kekuasaan dan kejayaan. Mereka lupa bahwa Jiwa adalah sempurna, sedangkan badan hanyalah sementara. Mereka ingin memiliki segala hal untuk menikmati hidup, padahal kita telah diberi hidup, untuk menikmati segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak kita, namun juga betapa lembut hati atau jiwa kita dalam menjalani sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, bukankah lebih baik menjadi orang yang memakai waktunya, demi membuat sesuatu yang diidamkannya terjadi? Bukankah sebaiknya kita tinggalkan angan-angan yang selalu mengatakan: “Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah”? Bukankah lebih baik berhenti mengatakan: “Aku tidak punya waktu”? Sungguh! Kita tidak akan pernah mempunyai waktu untuk apapun, jika tidak meluangkannya, menciptakannya. Lakukan yang terbaik hari ini, jangan tunda sampai esok, karena esok belum tentu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Hari ini anak keduaku berulang tahun yang keempat, pagi tadi dia memakai kostum dan berperan sebagai Spiderman, dan memintaku menjadi musuhnya. Bahkan ia-pun tahu, jika Aku memilih menjadi Spiderman juga, maka tidak akan ada permainan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/38414094-5832389819366450706?l=mugi-subagyo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/feeds/5832389819366450706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=38414094&amp;postID=5832389819366450706&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/5832389819366450706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/38414094/posts/default/5832389819366450706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mugi-subagyo.blogspot.com/2007/06/spiderman-dan-jalan-hidupku.html' title='SPIDERMAN DAN JALAN HIDUPKU'/><author><name>mugi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02840193125720902474</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/mugigede.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i131.photobucket.com/albums/p281/msubagyo/Artikel/th_dancingspiderman.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
